Kalau bicara tentang keindahan taman bawah laut dan pantai pasir putih yang indah di Indonesia, tentu jawabannya pasti di Bali, Raja A...

Explore Gili Labak : Surga Bawah Laut di Madura

Februari 10, 2019 Mas Junior 17 Comments


Kalau bicara tentang keindahan taman bawah laut dan pantai pasir putih yang indah di Indonesia, tentu jawabannya pasti di Bali, Raja Ampat, Karimunjawa. Indonesia memang dikenal memiliki ribuan pulau dan kehidupan lautnya yang beragam indah, sangat cocok untuk dijadikan tempat olahraga diving dan snorkeling.

Selain tempat yang telah disebut, ada juga pulau tersembunyi yang memiliki kehidupan bawah laut yang indah. Pulau tersebut masih termasuk bagian dari Pulau Madura dan terletak diujung paling timur. Namanya Pulau Gili Labak.

Pulau Gili Labak sering disebut sebagai Hidden Paradise, itu tidak lepas karena keberadaannya baru mencuat beberapa tahun belakangan. Seiring kemajuan teknologi dan informasi, Pulau Gili Labak pun semakin populer, terbukti dari seringnya kapal wisatawan asing yang berlabuh di pulau tersebut.

Meski aku orang Madura, tapi baru kemarin pertama kalinya merasakan keindahan Pulau Gili Labak. Waktu itu bertepat Hari Sabtu, 22 Desember 2018. Bersama dengan teman-teman Forum Lingkar Pena (FLP) se-Jawa Timur seharian meng-eksplore  pesona Pulau Gili Labak.


Untuk sampai ke Gili Labak, dari pelabuhan Kalianget kami menggunakan 2 perahu motor yang berisi 35 orang/perahunya. Sekitar pukul 06.34 WIB perahu mulai berlayar menembus ombak, saat kami berangkat air laut sedang surut, namun setelah setengah perjalanan ombak lumayan besar menerjang perahu yang aku tumpangi, bahkan sampai air masuk ke perahu.

Perjalanan sedikit membosankan, karena untuk sampai ke Gili Labak dari Pelabuhan Kalianget membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam.

Semakin perahu mendekat ke Pulau Gili Labak, keindahan pasir putihnya pun mulai nampak mempesona. Kondisi ombaknya semakin stabil dan air lautnya pun semakin jernih, dari atas perahu mulai terlihat keindahan terumbu karang yang di kelilingi ikan-ikan kecil. Jadi tidak sabar untuk segera Snorkeling.

Akhirnya perahu yang aku tumpangi berhasil menepi dibibir pantai dengan selamat. Sejauh mata memandang yang nampak adalah hamparan pasir putih yang bersih, pepohonan hijau, perahu-perahu wisatawan dan warga setempat. Terdapat juga tugu berukuran lumayan besar bertuliskan Pulau Gili Labak dengan cat berwarna-warni.


Sejenak saya beristirahat di kursi kayu beratapan daun jerami yang banyak tersedia di sepanjang pantai, tersedia juga warung-warung warga yang menyediakan beraneka makanan dan snack. Sangat direkomendasikan untuk membawa sunblock sebagai penawar dari terik matahari yang lumayan menyengat.

Setelah melepas lelah, aku pun mulai menyusuri bibir pantai dengan bertelanjang kaki untuk meresapi kelembutan pasir putih yang bersih. Tak henti-hentinya saya mengabadikan moment di berbagai titik yang instagramable.

Di Gili Labak juga tersedia berbagai macam wahana permainan, seperti ATV yang bisa digunakan untuk menyusuri pantai dan Banana Boot untuk seru-seruan dilaut. Namun tak ada satu pun yang saya coba karena saya lebih memilih mengekspor secara alami dan hemat dikantong. Hehe...

Semakin matahari beranjak, panas sinarnya pun semakin terasa menyengat. Suasana seperti itulah yang kemudian mendorong aku dan teman-teman FLP Jatim untuk menyeburkan badan ke laut. Berenang dengan bermacam gaya sampai lompat-lompat dari atas perahu yang sedang parkir. Kondisi air laut yang bersih dan jernih membuatku betah berlama-lama, meski terkadang tidak sengaja air laut yang asin masuk kedalam mulutku.


Puas berenang, aku pun beristirahat sembari bersenda gurau dengan teman-teman FLP Jatim bagian Ikhwan. Sedangkan bagian Akhwatnya mendapat jatah pertama untuk melakukan snorkeling dan tidak bisa bersamaan karena alat snorkelingnya terbatas. Meskipun sebenarnya aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bersnorkeling, tapi keterbatasan memaksaku untu menunggu, hal ini yang membuat rasa penasaranku semakin tinggi tentang Surga Bawah Laut Pulau Gili Labak.

Snorkeling: Menyusuri Surga Bawah Laut Gili Labak



Inilah momen yang aku tunggu-tungu, Snorkeling. Perahu kembali bersandar kebibir pantai, teman-teman akhwat FLP turun dari atas perahu dengan wajah senang dan ada pula yang seperti kelelahan.

Perahu kembali berlayar ke tengah laut dan mencari sport karang yang indah dan aman, dengan kedalaman sekitar 2 miter. Diatas perahu alat snorkling yang tersedia hanya kaca mata renang dan selang nafas, ada pula pelampung bagi yang kurang mahir dalam berenang.

Dari atas perahu sudah lumayan terlihat keindahan terumbu karang yang dikelilingi oleh ikan kecil berwarna-warni. Tak sabar, aku pun pertama lompat kelaut dan bersnorkeling. Semakin dalam menyelam, semakin deket pula dengan terumbu karang dan juga ikan-ikan yang berwara-wiri di sekitarku. Sungguh sangat indah surga bawah laut Gili Labak.

Karena baru pertamakali snorkeling, aku merasa kurang nyaman menggunakan selang nafas, terkadang air tak sengaja masuk ke mulut. Akhirnya aku memilih snorkeling dengan hanya menggunakan kaca mata renang dan tidak menggunakan pelampung. Karena kalau menggunakan pelampung hanya mengambang diatas permukaan dan tidak bisa menyelam kedalam laut bahkan sampai dasarnya.


Sejak kecil aku sudah terbiasa berenang di sungai, bahkan saat sungai sedang banjir. Dengan bekal itulah saya bisa dengan leluasa bersnorkeling meski hanya menggunakan kaca mata renang.

Karena tidak menggunakan alat bantu pernafasan, aku hanya bisa bertahan didalam air sekitaran 2 menit. Dan kebetulan saat itu kondisi ombak tidak terlalu besar, sehingga sangat nyaman untuk bersnorkeling. Setelah mengambil nafas kepermukaan, aku pun kembali menyelam menyusuri dasar laut yang dipenuhi terumbu karang yang masih asri.

Untuk mengabadikan momen berharga ini, saya pun berfoto di dalam air menggunakan camera waterproof yang disediakan oleh tour guidenya. Sayangnya, cameranya kurang bagus, sehingga gambar didalam airnya kurang jelas. Tapi itu tidak jadi masalah, karena perjalanan membosankan selama 2 jam diatas perahu terbayar lunas dengan keindahan surga bawah laut Pulau Gili Labak.


Karena hari sudah beranjak sore, maka saya harus mengakhiri ekplore Gili Labak kali ini, meskipun masih ada rasa kurang puasa bersnorklingnya, tapi harus diikhlaskan karena takut semakin besar ombaknya kalau sampai malam hari. Akhirnya sekitaran jam 15.30 perahu pun berlayar kembali menuju Pelabuhan Kalianget.


17 coment�rios: