Menulis bagi saya lebih dari sekedar hobi, ia merupakan sarana bagi saya untuk berkisah, berbagi ilmu/pengalaman dan terkadang juga unt...

Tip Menulis dari Tere Liye


Menulis bagi saya lebih dari sekedar hobi, ia merupakan sarana bagi saya untuk berkisah, berbagi ilmu/pengalaman dan terkadang juga untuk dikomersialkan. Meskipun begitu, skil menulis saya masih belum seberapa dan menulis pun juga belum istiqomah, makanya jangan heran jika sampai detik ini belum ada karya yang dibukukan. Palingan tulisan saya cuma nyangkut di blog ini atau blog tetangga, dan inshaallah juga lagi berusaha di beberapa media cetak.

Ikhtiar untuk menjadi penulis tentu sudah dilakukan, namun terkadang ada saja tantangan ditengah perjalanan. Mulai dari rasa malas, sibuk dengan Gadget atau pekerjan, kurang membaca sehingga sering buntu dan frustasi karena sering gagal juara lomba menulis atau ditolak media online/offline. Setiap penulis hebat tentu punya penawar bagi masalah-masalah tadi, dan juga dengan penawar yang berbeda sesuai karakter dan masalah perindividu.

Oleh karena itu, mendengarkan atau mengikuti workshop kepenulisan menjadi salah satu alternatif untuk menemukan penawar bagi masalah kita pribadi. Karena sering kali penulis memberikan trik dan tip untuk menjadi penulis hebat seperti dirinya. Dan kali ini saya berkesempatan untuk menimba ilmu kepada Tere Liye, acaranya dikemas dengan Workshop Kepenulisan bertempat di Aula PP. Darul Ulum Banyuanyar Putri pada Hari Ahad, 18 November 2018.

Untuk kali pertamanya penulis hebat yang memiliki nama asli Darwis itu menyambangi Pondok Pesantren Banyuanyar. Bagi Banyuanyar ini bukan yang pertama menghadirkan penulis nasional untuk berbagi dan sharing ilmu kepenulisan. Karena Banyuanyar juga pernah mendatangkan pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Habiburrohman El Zhirasy, Salim A. Fillah, Piepit Senja dll.

Dan benar saja, Tere Liye memberikan beberapa Tips Menulis yang tidak di sia-siakan oleh para audien untuk dicatat. Tidak heran jika audien sangat antusias dan mencatat setiap kata-kata yang keluar dari Tere Liye, karena karya beliau selalu memenuhi rak Best Seller di Toko Gramedia. Novel Hafalan Sholat Delisa merupakan novel pertamanya yang Best Seller hingga di filmkan, dan kini hampir dari semua karyanya dilebeli best seller karena selalu membludak dipasaran.

Berikut ada 5 Tips Menjadi Penulis Hebat dari Tere Liye yang berhasil saya catat, dan akan saya ulas dengan bahasa saya sendiri.

1. Topik tulisan bisa apa saja, tapi penulis yang baik selalu menemukan sudut pandang yang spesial.

Sebelum menulis, terlebih dahulu kita harus mencari topik/tema yang akan dibahas dalam tulisan kita. Memilih topik menjadi hal yang penting bagi penulis jika karyanya ingin diminati dan banyak pembacanya. Banyak topik yang bagus untuk dibahas dalam tulisan kita, namun tekadang juga sudah banyak yang membahasnya. Alternatifnya adalah dengan membahasa topik tersebut dengan sudut pandang yang berbeda.
Topik yang diambil dengan sudut pandang yang berbeda selalu menarik perhatian pembaca, karena pembahasannya yang tidak biasa-biasa saja. Tidak masalah jika topik tulisan kita biasa saja, namun ketika mengulasnya dengan sudut pandang yang tidak biasanya, maka karya kita akan memiliki daya tarik sendiri.

2. Penulis membutuhkan amunisi, tanpa amumisi tidak bisa menulis.

Sebelum menulis, kita harus memiliki bekal untuk hal yang akan ditulis. Karena jika otak kita kosong tanpa ada bekal ilmu dan pengalaman didalamnya. Sudah dipastikan tulisan tersebut akan terasa hambar dan sering mengalami kebuntuan ketika menulis. Ada beberapa cara untuk mengisi otak kita dengan macam-macam ilmu dan pengalaman, diantaranya;
  a. Banyak Baca Buku
Mengapa sih kita perlu membaca? Karena membaca merupakan suatu cara untuk mendapaktkan informasi yang ditulis dan informasi yang paling mudah untuk kita peroleh adalah melalui bacaan, baik buku, Koran, Majalah dll. Dengan membaca dapat membuat seseorang memiliki wawasan yang luas, gagasan yang tajam dan meningkatkan kreatifitas.
Dengan sering membaca, maka penulis bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat. Dengan begitu, maka proses menulispun bisa berjalan dengan lancar
  b. Banyak melakukan Perjalanan
Perjalanan atau yang lebih kita kenal dengan nama Travelling merupakan hobi mayoritas umat manusia, karena travelling selalu mengasyikan dan menghibur. Namun selain untuk melepas stress, travelling juga memiliki banyak manfaat. Travelling juga bisa menambah wawasan terhadap suatu tempat, dengan begitu kalian akan mendapatkan informasi baru secara langsung dan membuat kalian menjadi lebih pintar dan banyak tau.
  c. Banyak bertemu dengan orang-orang
Bertemu dengan orang yang baru kenal dan dengan latar belakang berbeda atau jenjang pendidikan berbeda juga bisa menambah wawasan. Oleh karena itu, seorang penulis juga harus bisa sering bertemu dengan orang-orang, terutama yang ilmu dan wawasannya lebih tinggi, supaya dia bisa memperoleh ilmu dari orang tersebut.

3. Kalimat pertama adalah kalimat mudah, gaya bahasa adalah kebiasaan, menyelesaikan lebih gampang.

Sering sekali ketika ingin memulai menulis, tapi merasa kesulitan untuk menentukan kata atau kalimat utamanya. Permasalahn seperti ini sebenarnya hanya hal kecil jika kita mampu mempraktikan tips dari Tere Liye. Caranya cukup gampang untuk memulai sebuah tulisan pada kalimat pertama, bisa dilakukan dengan kalimat asal-asalan yang penting masih berkenaan dengan topic pembahasan, karena kalau sudah bisa mendobrak kebuntuan dikalimat pertama, maka kalimat seterusnya akan lebih gampang mengalir. Dan untuk kalimat pertama tadi yang ditulis secara asal-asalan, bisa di hapus atau diperbaiki lagi. 

4. Mood jelek adalah anugerah, tapi kalau selalu bilang mood jelek, carilah aktivitas yang berbeda.

Mood juga mempengaruhi terhadap tulisan, terkadang ketika sedang mood jelek, kita akan merasa malas dan tidak serius dalam menulis. Mood jelek pasti akan dirasakan oleh stiap orang, oleh karena itu sekiranya perlu mencari suasana dan waktu yang pas untuk mengembalikan mood yang baik. Bisa saja ketika menulis dilakukan diwaktu yang sunyi atau dengan mencari tempat yang segar. Sebaiknya memang berhenti menulis ketiak mood sedang tidak baik, dan berusaha menghilangkannya dengan aktivitas yang berbeda.

5. Latihan, latihan & latihan.

Nah yang terakhir Tipsnya adalah Latihan, latihan dan latihan. Menjadi hal yang sia-sia ketika sering ikut pelatihan atau motivasi tentang kepenulisan tapi tidak diimbangi dengan latihan. Karena menulis tidak cukup teori saja, butuh pembiasaan yang kemudian melahirkan kebiasaan. Latihan menulis bisa dilakukan dengan menulis hal kecil setiap hari, dari aktivitas tersebut akan membentuk jiwa dan karakter seorang penulis, dan tentunya seiring dengan seringnya latihan maka tulisannya akan semakin membaik pula.
Itu dia 5 Tips menjadi penulis dari Tere Liye. Berminat jadi penulis? Coba saja tips tersebut.
Semoga Berhasil!

Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat...

Menyumpah ‘Kembali’ Pemuda Milenial


Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Sumpah Pemuda adalah buah dari Kongres Pemuda II yang diselenggarakan Pada hari Sabtu-Minggu, 27-28 Oktober 1928.

Kongres yang berlangsung di Batavia (Jakarta) itu menghasilkan komitmen ingin bersatu demi Indonesia. Mereka pun mengikrarkan 3 hal, yaitu bertanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Ketiga hal inilah yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda sampai saat ini.

Bermodalkan semangat pemuda-pemudi Indonesia berkumpul untuk memperkokoh persatuan dan juga menjujung tinggi Indonesia. Pada saat diikrarkannya sumpa pemuda Negara Indonesia belum merdeka. Tentu saja perjuangan-perjuangan pemuda Indonesia adalah untuk mendapatkan kemerdekaan. Salah satunya dengan bersatu menyatukan cita, semangat dan tekad untuk merebut kemerdekaan, bahkan dengan menumpahkan darah sekalipun. 17 tahun kemudian, ikrar ini melahirkan Proklamasi Kemerdekan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Sumpah pemuda yang diperingati  setiap tanggal 28 Oktober adalah untuk membuat pemuda-pemudi Indonesia mengingat perjuangan-perjuangan pemuda Indonesia zaman dulu dan juga sebagai waktu untuk pemuda Indonesia dapat merefleksikan diri melalui hal-hal positif. Sesederhana apapun bentuk refleksi di sumpah pemuda, ketika itu hal positif maka sebagai pemuda kita harus ikut untuk menuangkan karya-karyanya untuk Indonesia.

Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Saat ini kondisi Indonesia tengah dihadapkan dengan banyak persoalan, mulai dari maraknya bencana alam yang silih berganti menerpa beberapa wilayah di Indonesia, kejahatan narkoba, terorisme, radikalisme, korupsi, illegal logging, illegal fishing dan sebagainya, itu ada dan terjadi secaran berkesinambungan. Dan yang sangat berbahaya adalah ancaman perpecahan dari bangsa sendiri.

Perpecahan yang paling besar akibat pemilu nyata adanya. Kebebasan berpolitik banyak dimaknai sebebas-bebasnya, sehingga berani menabrak norma yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat. Adu domba antar kubu pun tak terhindari, ujaran kebencian dan hoaks banyak bertebaran di media sosial setiap harinya sehingga mengakibatkan suasana politik semakin memanas.

Melalui peringatan hari sumpah pemuda tahun ini diharapkan pemuda-pemudi Indonesia bisa memberikan kontribusi nyata untuk mengembalikan lagi semangat persatuan dan menjungjung tinggi Indonesia. Jumlah pemuda di Indonesia mencapai 61,83 juta jiwa atau 24,53 persen dari total 252,04 juta jiwa penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, mereka sebetulnya adalah kekuatan potensial dalam mengggerakkan perubahan sosial.

Kalau melihat dari history, pemuda Indonesia merupakan aktor penting dalam beberapa momentum vital yang melahirkan bangsa ini, mulai dari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan hingga Revolusi Nasional 1945. Ditangan pemudalah terpikul sebuah tugas sejarah yang besar, melanjutkan dan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, yakni mewujudkan persatuan dan kesatuan NKRI.

Pemuda-pemudi bisa menyumbangkan gagasan untuk kemajuan bangsa. Disamping itu, melaui riset atau penelitian pemuda bisa menyumbang pengetahuan yang memperkaya pengetahuan para pengambil kebijakan dan rakyat banyak. Pemuda juga bisa mendorong inovasi dan penemuan teknologi baru untuk kepentingan rakyat banyak.

Ide-ide unik dari generasi pemuda Indonesia terbukti telah banyak mewarnai di era digital saat ini. Lahirnya market place seperti Bukalapak dan Tokopedia adalah inspirasi dari banyak pendiri perusahaan internet pada awal tahun 2000-an. Meski era digital sangat menantang dan persaingan juga ketat. Tapi optimistis pemuda Indonesia, menjadikan era digital sebagai kesempatan baru dan peluang besar untuk berinovasi.

Selain itu Pemuda Indonesia juga harus berada di garda terdepan melawan korupsi, melawan berbagai kebijakan politik yang merugikan rakyat banyak. Dan yang terpenting, pemuda harus bisa mengatasi masalah perpecahan yang ditimbulkan dari berbagai macam aspek serta menjadi fasilitator pemersatu bangsa.

Tidak hanya pemuda, semua komponen bangsa juga harus memaknai Hari Sumpah Pemuda terlebih menjadikan bangsa Indonesia sebagai Rumah Besar bersama yaitu ‘INDONESIA’. Jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan kaum fanatik. Dengan tetap menjaga cita-cita bangsa dan ikut membangun Indonesia yang adil dan solider, yang demokratis dan tetap menghargai pluralitas.

Generasi pemuda Indonesia hari ini harus mewarisi semangat para pemuda yang bersumpah pada tahun 1928 itu. Ini adalah generasi baru yang mencoba mewarisi semangat para pendiri bangsa untuk mengambil risiko besar dalam kehidupan mereka untuk mencapai hal-hal yang lebih besar lagi. Apalagi ini adalah zaman di mana internet telah membantu kita menghilangkan berbagai keterbatasan.

Jadi, sudah saatnya perayaan sumpah pemuda sebagai ajang merefleksikan sumpah pemuda yang diikrarkan sebagai bentuk perjuangan pemuda-pemudi Indonesia dulu. Refleksi ini bisa dilakukan dengan berbagai macam kegiatan yang bernilai positif. Dengan refleksi tersebut menandakan bahwa pemuda sekarang turut bersumpah kembali demi persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

*Terbit di Jawa Pos Radar Madura Edisi Rabu, 07 November 2018 (Menyumpah 'Kembali' Pemuda Milenial)


Sumber : https://radarsurabaya.jawapos.com/read/2018/10/25/100107/manfaatkan-medsos-ikuti-perkembangan-teknologi Oleh : Sirajul Munir ...

Menunggu Kembalinya Kejayaan IKM Tanggulangin Melalui Wisata Terpadu 3 in 1

Sumber : https://radarsurabaya.jawapos.com/read/2018/10/25/100107/manfaatkan-medsos-ikuti-perkembangan-teknologi
Oleh : Sirajul Munir

Seringkali kita menggunakan tas kulit dan koper. Namun terkadang kita sering tidak tau barang tersebut di produksi dimana. Kadang juga kita lebih sering menggunakan tas kulit dan koper hasil impor yang harganya lebih murah. Lantas apakah tidak ada tas kulit dan koper hasil produksi nasional yang kulitas dan harganya mampu bersaing dengan yang impor?

Untuk generasi milenial yang lahir di era tahun 2000-an mungkin tidak akan banyak mengenal Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo yang sempat mengalami masa kejayaannya dalam industri tas dan koper. Karena setelah mengalami masa kejayaan tersebut, Industri Kecil Menengah (IKM) Tanggulangin sempat mengalami masa suramnya beberapa tahun silam.

Sebenarnya IKM di Tanggulangin sudah mulai beroprasi sejak tahun 1960-an melalui para tenaga lepas sebuah perusahan koper yang ada di Surabaya. Sejak itulah IKM tersebut mengalami perkembangan yang signifikan sehingga banyak melahirkan tenaga terampil, dari situlah kemudian banyak bermunculan para pengusaha koper yang mandiri.

Untuk mewadahi perkembangan industri tas dan koper di Tanggulangin, kemudian pada tahun 1975 didirikanlah sebuah Koperasi Industri Tas dan Koper yang diberi nama INTAKO. Melauli koperasi tersebut IKM-IKM yang ada di Tanggulangin merasa terwadahi, baik dengan maksimalnya pemasaran produk atau pun kerjasama antar sesame pengusaha.

Melalui Koperasi INTAKO tersebut, produksi Tas dan Koper di Tanggulangin terus mengalami perkembangan, puncak perkembangan tersebut terjadi pada tahun 2000. Kecamatan Tanggulangin semakin dikenal sebagai sentra produksi tas dan koper nasional.

Namun, setelah mengalami masa kejayaannya. IKM Tas dan Koper di Tanggulangin tidak mampu mempertahankan prestasi tersebut. Terhitung sejak tahun 2000-an IKM tersebut mengalami kemorosotan dan hampir punah. Banyak pengusahan tas dan koper yang memilih gulung tikir, hanya menyisakan 30% pengusaha yang berusaha mempertahankan usaha turun-temurun tersebut. Faktor merosotnya industri tas dan koper di Tanggulangin adalah dampak Lumpur Lapindo yang terjadi pada Mei 2006. Selain itu masuknya barang impor yang tidak mampu tersaingin juga menambah cobaan para pengrajin untuk mempertahankan produksi mereka.

Karena IKM Tanggulangin dinilai mampu menggerakan ekonomi rakyat dan secara otomastis menyumbang pendapatan asli daerah Kabupaten Sidoarjo. Maka Kementrian Perindustrian yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melakukan Program Revitalisai Sentra Industri Kecil dan Menengah. Program revitalisasi tersebut berfokus untuk memacu produktivitas dan daya saing dari para perajin yang mayoritas memproduksi barang jadi kulit. Sehingga suatu saat melalui program tersebut dapat mengembalikan kejayaan Sentra IKM Tanggulangin.

Revitalisasi Sentra IKM Tanggulangin ini meliputi sektor industri tas, koper dan keunggulan produk lokal lainnya melalui strategi transformasi fisik, ekonomi dan kultural. Upaya ini agar menjadikan sentra IKM Tanggulangin sebagai Kawasan Wisata Terpadu yang memiliki konsep 3 in 1, yaitu wisata belanja, wisata budaya dan kuliner, serta wisata edukasi industri.

Wisata 3 in 1


Wisata 3 in 1 Tanggulangin meliputi Wisata Belanja, Wisata Budaya dan Wisata Edukasi. Selain rebranding Tanggulangin, revitalisasi Tanggulangin juga akan dilakukan. Bentuk revitalisasi fisik Tanggulangin termasuk ke dalam 9 identitas yang akan menjadi ciri khas Tanggulangin.

Disamping sebagai kawasan wisata belanja, maka Sentra IKM Tanggulangi juga dapat menjadi tempat wisata budaya, misalnya dengan dilengkapi berbagai atraksi seni dan budaya lokal Jawa Timur. Sementara untuk wisata edukasi, ditampilkannya historyboard tentang sejarah Sentra IKM Tanggulangin serta mempertontonkan cara pengrajin lokal memproduksi tas dan koper yang ramahlingkungan.

Hal yang tak kalah serunya juga akan terlaksana pada tanggal 2 November 2018, dimana akan ada pemecahan rekor MURI. Melalui even ini, akan menjadi gong pembukaan (launching) rebranding Sentra IKM Tanggulangin. Melalui even ini akan digaungkan  kembali Sentra IKM Tanggulangin sehingga masyarakat tahu akan hal ini. Sementara para stakeholder diharapkan semakin serius dan berkomitmen menangani dan merevitalisasi Sentra IKM Tanggulangin.

Selain itu, dijalankan pula revitalisasi kelembagaan, diantaranya promosi Kawasan Wisata Terpadu Tanggulangin, community branding, promosi produk, mendorong perajin melakukan pemasaran online melalui e-Smart IKM, mendorong tumbuhnya kuliner lokal, peningkatan kapasitas produksi, pemetaan IKM Tanggulangin, menampilkanatraksi seni dan budaya lokal Jawa Timur, serta mempromosikan busana lokal melalui seragam pramuniaga.

Di kutip dari www.kemenperin.go.id, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mengaku optimistis, revitalisasi ini akan meningkatkan kinerja bisnis IKM Tanggulangin serta jumlah kunjungan wisatawanya. “Saat ini, kunjungan wisatawan ke Sentra IKM Tanggulangin sudah mulai mengalami peningkatan,” ungkapnya. Berdasarkan data Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sidoarjo, jumlah kunjungan wisatawan dalam negeri pada tahun 2014 sebanyak 104.053 orang, mengalami peningkatan sekitar 135 persen sehingga menjadi 244.974 orang pada tahun 2016.

Untuk mengembalikan kejayaan industri tas dan koper Tanggulangin tentu memerlukan sentuhan dari banyak pihak, terutama pihak pemerintah terkait. Industri ini selain bisa menjadi salah satu ikon wisata juga dapat kembali menjadi sumber pendapatan utama Kabupaten Sidoarjo. Selanjutnya juga dibutuhkan metode promosi dan pemasaran yang tepat untuk mengenalkan industri ini ke masyarakat luas, baik nasional maupun internasional.

Nah, buat kalian para generasi milenial juga bisa turut berperan dalam membantu mengembalikan kejayaan industri tas dan koper Tanggulangin melalui keaktifan dalam mengikuti acara Rebranding dan Pemecahan Rekor Muri pada 2 Nopember 2018. Dan jangan lupa untuk terus mempromosikan industri tas dan koper Tanggulangin melalui semua media sosial kalian, agar citra IKM Tanggulangin sebagai sentra industri kembali tercapai. 

GNFI? Pikiran saya berusaha mencerna kata ‘GNFI’, namun sepertinya saya baru dengar kata tersebut. Dengan rasa penasaran saya ketik kat...

Ngobrol Sehat di #KopdarBaik Bersama GNFI


GNFI? Pikiran saya berusaha mencerna kata ‘GNFI’, namun sepertinya saya baru dengar kata tersebut. Dengan rasa penasaran saya ketik kata itu di mesin pencarian google, kemudian saya diarahkan ke website resminya.

Akhirnya saya tau bahwa GNFI yang memiliki kepanjangan Good News From Indonesia itu adalah website yang berkampanye digital untuk menjadi sumber utama segala macam kabar baik dari Indonesia yang independen dan terpecaya. Wihh keren juga yaa… Hampir sama dengan Komunitas Blogger Plat-M yang juga berkampanye semua tentang hal baik di Indonesia tetapi lebih fokus terhadap kabar baik Pulau Madura.

Hari Sabtu Pagi (13/10/18) saya bersama Rahman berbocengan menggunakan motor matic dengan kecepatan rata-rata dari Kec. Palengaan Kab. Pamekasan menuju lokasi acara yang di adakan oleh GNFI yang bertempat di Café Java In Rest Area Sumenep Madura.

Acara kali ini adalah #KopdarBaik bertajuk Indonesia Sehat dan Indonesia Digdaya dengan tagline #1000HariTerbaik. Menghadirkan Founder GNFI, Akhyari Hananto yang menyampaikan perkembangan negara tetangga yang mampu bergerak maju setelah mengalami keterpurukan, dan juga membicarakan kondisi Indonesia yang masih belum bisa mengatasi aspek kesehatan masyarakatnya, terutama terkait stunting di Indonesia yang tercatat mencapai 7,8 juta dari 23 juta balita adalah penderita stunting, atau sekitar 35,6 persen.

Selain itu juga hadir sebagai pembicara dari Kemenkominfo, Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya Prof. Dr. Merryana Adriani, SKM., M.Kes., Ketua TP PKK Kabupaten Sumenep Nurfitriana Busyro, dan Sosial Media influencer Enno Lerian.


Dalam #KopdarBaik tersebut yang menjadi pusat pembicaraan adalah terkait tingginya angka stunting di Indonesia, termasuk Kabupaten Sumenep yang memiliki prevalensi stunting yang masih tinggi di Jawa Timur.

Untuk menekan angka tersebut, masyarakat perlu memahami betul faktor penyebab terjadinya stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.

Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak.

Untuk mengedukasi masyarakat terkait faktor penyebab stunting, tidak cukup dibenbankan kepada pihak pemerintah terkait. Dengan acara #KopdarBaik tersebut, GNFI ingin mengajak generasi millenials untuk peduli tentang isu kesehatan yang dimulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat dan masyarakat lebih luas.

Untuk mewujudkan Indonesia yang lebih digdaya sangat perlu menjaga pola hidup yang sehat agar bisa mengatasi persoalan stunting dan penyakit yang lainnya. Begitulah kira-kira yang disampaikan para pembicara pada #KopdarBaik kali ini.

Selain mendapatakan tambahan ilmu yang bermanfaat, yang tak kalah pentingnya adalah saya bisa bersilaturrahmi dengan bergbagai komunitas yang ada di Madura. Diantaranya GenPI Madura Raya, Komunitas Kota Tua Sumenep, Ariya Madura, dll. 

Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang 99.093 kilometer, dengan lahan tambak garam yan...

Madura Pulau Garam, Kenapa Indonesia Masih Impor?


Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang 99.093 kilometer, dengan lahan tambak garam yang mencapai 26.024 hektare. Tidak heran jika Indonesia sangat potensial untuk memproduksi garam, meskipun tidak semua garis pantai dapat di manfaatkan dengan maksimal sebagai tempat industri garam. Total ada 40 kota/kabupaten penghasil garam di Indonesia, diantaranya adalah Cirebon, Sampang, Pati, Indramayu, Sumenep, Rembang, Bima, Demak, Pamekasan, Surabaya dll.

Dari sekian banyak daerah penghasil garam, Pulau Madura identik dengan produksi garamnya yang melimpah dan merupakan pulau penyumbang 60% garam secara nasional. Sehingga tidak mengherankan jika akhirnya pulau yang dihubungkan dengan Jembatan Suramadu dari Surabaya ini disebut-sebut sebagai “Pulau Garam”.

Hasil produksi garam di Madura terbilang besar. Lahan pertanian garam rakyat di kawasan tersebut juga luas. Madura memiliki lahan seluas lebih dari 11.695 hektare untuk pertanian garamnya. Lahan ini terbagi menjadi lahan untuk garam rakyat dan milik PT Garam. Ini merupakan lahan produksi garam yang terluas di Indonesia.

Secara persentase nasional, produksi garam dari Pulau Madura memang sangat besar karena bisa mencapai 60% dari total produksi dari seluruh Nusantara. Untuk luas wilayah areal pertanian garam rakyat di Indonesia, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Garam Republik Indonesia (APGRI), Faisal Baidawi, menyatakan ada berkisar 23.000-24.000 hektare. Jika merujuk ke data asosiasi ini, luas lahan produksi garam di Madura sekurang-kurangnya sudah mencapai 60% dari total luas lahan garam di seluruh Nusantara.

Dengan begitu, tidak diragukan lagi. Jika Indonesia mampu memproduksi Garam dengan jumlah yang besar dan mencukupi untuk di konsumsi pribadi dan industri. Dan puncaknya, Indonesia swasembada garam pada tahun 2015, pada tahun tersebut produksi surplus hingga 2,9 juta ton, padahal kebutuhan pada saat itu hanya 2 juta ton saja. Selama empat tahun swasembada, angka tersebut naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 2,4 juta ton per-tahun dan lebih baik dari produksi 2012 dan 2013 yang mencapai 2,5 juta ton dan 1,7 juta ton.

Fakta mengejutkan terjadi dua tahun terakhir ini, tepatnya setelah Indonesia mencapai puncak swasembada pada tahun 2015. Di tahun 2016 pemerintah mulai membuka kran impor garam karena anjloknya produksi garam yang mencapai titik terendah. Produksi garam nasional pada saat itu mencapai 144.000 ton dari kebutuhan sebanyak 4,1 juta ton, 780 ton untuk konsumsi publik, sedangkan sisanya untuk keperluan industri.

Pada tahun 2017 produksi garam hanya mencapai 118,056 ton atau setara 3,7 persen dari target 3,2 juta ton yang di tetapkan pemerintah pada 2016. Akhirnya pemerintah impor lagi sebanyak 2.5 juta ton. Harapan tahun ini untuk tidak impor garam lagi kanda setelah bulan maret (03/18) kemarin Presiden Jokowi telah meneken izin impor garam yang mencapai 2,37 juta ton.

Kenapa Harus Impor?

Minimnya produksi garam menjadi pemicu utama pemerintah untuk melakukan impor garam, minimnya produksi garam domestik disebabkan faktor cuaca, hujan terus-menerus yang mengakibatkan banyak petani garam yang gagal panen. Sehingga produksi garam lokal tidak mengcukupi untuk di konsumsi sendiri dan industri.

Selain faktor cuaca, hal lainnya yang membuat jumlah produksi garam di Indonesia relatif sedikit ialah proses pembuatan garam yang masih tradisional. Yaitu dengan mengandalkan matahari dan alat-alat sederhana seperti, penggeruk kayu dan kincir angin. Sehingga untuk bisa panen harus menunggu waktu minimal 10-14 hari hingga 21 hari.

Kurang maksimalnya pemerintah dalam menangani tata niaga garam juga menjadi faktor melemahnya produksi garam domestik. Bukti kurang maksimalnya tata niaga garam oleh pemerintah, pada 2017 produksi garam mencapai 118.056 ton atau setara 3,7 persen dari target 3,2 juta ton yang ditetapkan pemerintah pada 2016. Kondisi tersebut harus segera dihentikan dengan cara memperbaiki kinerja dan mengedepankan semangat gotong royong masyarakat.

Sepanjang 2017 pemerintah lebih banyak memilih membuka kran impor garam dibandinkan dengan melakukan penyerapan garam rakyat yang diproduksi petani garam tradisional. Dalam melaksanakan impor, kuota yang diberikan pemerintah selalu berlebihan. Padahal pada saat yang sama petani garam nasional melaksanakan panen raya. Alhasil kondisi itu membuat produksi garam nasional mengalami kelumpuhan.

Akibat kuota berlebih yang selalu berulang setiap tahun, para petani garam merasakan dampak negatifnya dan pada akhirnya secara perlahan banyak petani garam yang kemudian beralih profesi menjadi buruh kasar. Cara tersebut dilakukan, karena produksi garam dinilai sudah tidak menguntungkan lagi. Lahan-lahan produksi secara perlahan juga mulai menyusut karena pemilik lahan berhenti beroperasi dan meninggalkan profesi sebagai pertambak garam.

Hingga tahun 2018 kebutuhan garam di Indonesia belum bisa dipenuhi oleh produksi lokal.  Kebutuhan tersebut, mendesak untuk dipenuhi karena banyak produk yang memerlukan pasokan garam untuk industri. Untuk memecahkan persoalan itu, Pemerintah Indonesi rencananya akan kembali melaksanakan impor sebanyak 3,7 juta ton pada 2018. Keputusan tersebut diambil setelah Pemerintah Indonesia menggelar rapat bersama di kantor Kementrian Koordinator Perekonomian.

Keputusan untuk melaksanakan impor garam industri, bagi Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) sangatlah disayangkan. Menurut mereka, kebijakan impor yang sudah berlangsung rutin setiap tahun, menjadi penanda bahwa pemerintah tidak serius dalam memperbaiki tata kelola garam secara nasional. Kebijakan tersebut hanya akan menyelesaikan permasalahan di permukaan saja dan tidak di dasar.

Sumber Foto : http://www.ptgaram.com/media.php?page=2

Solusi Stop Impor Garam

Pertama, penggunaan Teknologi produksi dan pengolahan garam. Kelangkaan garam terjadi di berbagai daerah, krisis meliputi bermacam produk garam untuk keperluan dapur, industri dan farmasi. Sangat ironis hingga sampai terjadi krisis garam, karena potensi dan sumber daya alam untuk produksi garam di Indonesia sangat melimpah.

Jangan kambing hitamkan iklim dan cuaca terkait merosotnya produksi garam nasional. Kini para petani garam banyak yang kapok memproduksi garam lantaran selama lima tahun terakhir harga garam sangat rendah, sehingga tidak cukup untuk menutup biaya produksi. apalagi kondisi cuaca dan musim kemarau basah tidak mampu dihadapi petani karena kurangnya fasilitas dan teknologi yang memadai.

Dengan kondisi di atas para petani garam banyak yang meninggalkan usahanya. Maka terjadilah krisis produksi garam yang parah dan terjadi di berbagai daerah. Krisis akan terus berlanjut karena hingga puncak musim kemarau tahun ini petani garam belum banyak yang tergerak untuk menjalankan lagi usahanya. Hinggi kini produktivitas dan mutu garam nasional masih banyak yang tergolong rendah. Karena teknologi produksi garam tergolong sederhana. oleh karena itu, perlu transformasi produksi garam untuk atasi krisis yang makin mencekam.

Perlu dibangun pabrik-pabrik baru dengan menggunakan teknologi mutakhir dan dukungan dana yang mencukupi. Seperti halnya di Tiongkok, ada sebuah pabrik di Shanghai yang memproduksi garam dengan kualitas tinggi dengan NaCL mendekati 100 persen, namun dengan harga yang murah dan diproduksi dari air baku. Pabrik tersebut bisa seperti itu berkat dukungan penuh dari Pemerintah Tiongkok dan memberikan subsidi biaya produksi melalui listrik yang murah.

Dengan teknologi tersebut, petani garam yang sebelumnya harus menghabiskan waktu minimal 10-14 hari hingga 21 hari saat melaksanakan panen, bisa menghemat lebih banyak waktu. Efisiensi tersebut bisa didapat, terutama karena ada integrasi lahan untuk produksi garam di satu area saja. Selain itu, petani garam tidak hanya akan mendapat peningkatan produktivitas, melainkan juga bisa mendapatkan kualitas garam lebih bagus.

Kedua, Ekstensifikasi lahan pertanian garam. Mengingat kebutuhan produksi garam terus meningkat setiap tahunnya, produksi garam tidak bisa lagi mengandalkan sistem seperti yang sekarang ada. Selain menggenjot produksi di sentra garam yang sudah ada, Indonesia perlu melakukan ekstensifikasi lahan untuk produksi garam di sejumlah daerah.

Dengan dilaksanakannya ekstensifikasi lahan, diharapkan ketergantungan impor garam bisa secara perlahan dikurangi dan kemudian dihentikan. Tak hanya garam konsumsi, dari lahan ekstensifikasi tersebut diharapkan dapat memproduksi garam industri dengan kualitas standar internasional.

Daerah yang bisa mengemban tugas tersebut, paling potensial adalah Nusa Tenggara Timur. Dengan cuacanya yang sangat mendukung untuk produksi garam. Selain NTT, ada juga Jawa dan Madura. Meskipun program ekstensifikasi akan memakan biaya yang sangat besar. Namun, itu tidak akan menjadi masalah, jika tujuan akhirnya agar Indonesia bisa lepas dari jeratan impor.

Ketiga, Kebijakan pemerintah dalam tata niaga garam. Apa yang dilakukan Pemerintah di awal 2018, menunjukan bahwa pemerintah telah kehilangan akal dalam membangun kedaulatan pangan. Jika Pemerintah memiliki itikad baik dan kuat untuk membangun kedaulatan pangan, maka berbagai cara akan terus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Jika selama ini persoalan utama garam industri di Indonesia adalah kadar Natrium Chlorida (NaCl) belum bisa mencapai angka 97,4 persen dan produksi garam yang anjlok ketika musim penghujan, maka Pemerintah seharusnya bisa menggandeng ilmuwan, lembaga riset, dan juga perguruan tinggi di Indonesia untuk dapat menyelesaikan persoalan tersebut.

Permasalahan yang saat ini muncul, juga berkaitan dengan tata niaga garam di dalam negeri. Pemerintah harus bisa menatanya lebih baik lagi setelah produksi dalam negeri mengalami keterpurukan. Persoalan garam yang melanda bangsa Indonesia sekarang, harus bisa disikapi dengan baik oleh semua pihak. Namun, yang utama, Pemerintah harus jeli dalam menetapkan kebijakan impor untuk mengatasi kelangkaan garam di pasar domestik.

Berkaitan dengan kebijakan impor garam konsumsi sebanyak 75 ribu ton, pemerintah seharusnya bisa bersikap lebih fleksibel dan bijak. Dengan membuka keran impor, maka itu berarti potensi untuk menyetop serapan garam dari domestik sangat mungkin terjadi. Pada saat itulah, Pemerintah diharapkan lebih bijaksana untuk berpihak kepada para petani garam. Bagaimanapun, produksi garam dalam negeri harus tetap diperhatikan. Pemerintah harus menyiapkan sistem distribusi garam yang lebih baik, sehingga tidak merugikan petani lokal.

Tata niaga garam menjadi kunci dari keberhasilan menjaga stabilitas petani garam. Selain itu Pemerintah juga harus memaksimalkan pendataan untuk penyerapan garam produksi domestik. Karena selama ini data serapan garam dari petani oleh industri maupun konsumsi tidak ada. Dengan tata niaga yang baik, kesejahteraan petani juga akan tetap bisa dicapai, meski produksi secara keseluruhan mengalami penurunan seperti sekarang.

Oleh karena itu, Indonesia harus belajar banyak dari keterpurukan produksi garam domestik sepanjang 2016 hingga 2017. Pelajaran terpenting, bagaimana mengelola stok garam yang tersedia dan menggenjot produksi domestik tetap berjalan baik, dalam kondisi cuaca apapun.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah menetapkan nomor urut capres-cawapres pada pemilu 2019, itu saya ketahui dari berbagai media cetak...

Siap Menang & Siap Kalah #Pemilu2019


Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah menetapkan nomor urut capres-cawapres pada pemilu 2019, itu saya ketahui dari berbagai media cetak dan online yang kebetulan saya baca. Sesuai pengundian yang telah dilakukan, menempatkan pasangan Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin sebagai nomor urut 1 dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai nomor urut 2.

Hari Minggu, 23 September 2018 menjadi hari pertama dimulainya kampanye sekaligus deklarasi kampanye damai yang secara resmi dibuka oleh Ketua KPU RI Arief Budiman bertempat di Monas, Jakarta Pusat. Turut hadir pada acara tersebut para ketum parpol kontestan Pemilu 2019 dan capres-cawapres.

Tentu bukan hanya KPU yang berharap kampanye kali ini dapat berjalan dengan damai, aman dan adil, namun juga harapan besar seluruh Masyarakat Indonesia. Tidak saling menghujat dan menghina, tapi lebih menampilkan program visi-misi dari setiap capres dan caleg. Sehingga masyarakat bisa melihat dan memilih pemimpin yang pantas melanjutkan estafet kepemimpinan di Indonesia.

Melihat pentingnya nuansa sejuk dan damai dalam Pemilu 2019, saya bersama kawan-kawan Blogger Plat-Madura ikut andil dalam menyaksikan Deklarasi yang juga dilaksanakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umam (Bawaslu) Jawa Timur pada malam harinya yang bertempat di Hotel Majapahit Surabaya.

Turut hadir dalam acara deklarasi tersebut KPU Jawa Timur, Tim Pemenangan Capres-Cawapres, Calon DPRD Provinsi Jawa Timur, petinggi Partai Politik, Ormas dan juga Netizen. Ketua Bawaslu Jatim M. Amin mengajak seluruh kontestan pemilu berkomitmen menjaga kampanye damai di Jawa Timur sebagai provinsi terbesar nomer dua setelah Jawa Barat dengan Deklarasi ‘Kalah Terhormat, Menang Bermartabat’ dibuktikan dengan penandatanganan prasasti sekaligus pembacaan tiga poin deklarasi secara serentak.

Sudah seharusnya pemilu tahun ini bisa menghapus rekor buruk pemilu tahun sebelumnya, dimulai dari komitmen seluruh partai politik untuk mematuhi segala peraturan dan mempersiapkan jiwa serta raganya untuk menerima kekalahan. Karena yang namanya kontestasi, tentu ada yang menang dan ada yang kalah.

Untuk menerima kemenangan, tentu semua orang selalu siap untuk menerimanya. Namun, ketika takdir tuhan memberikan kekalahan, hanya sedikit yang berjiwa besar menerima kekalahan dengan lapang dada. Catatan diatas kertas para kontestan politik tentunya sudah banyak yang memprediksi kemenangan mereka masing-masing, tapi banyak juga dari mereka yang lupa bahwa hitung-hitungan diatas kertas sering kali tidak sesuai dengan realita. Pun demikian dengan peta politik yang masih bisa berubah sewaktu-waktu.

Kita tau, Indonesia memiliki tingkat fanatisme yang tinggi dalam berbagai hal, sehingga sering kali terjadi kerusuhan, kekerasan dan tindak kriminal lainnya. Sikap lapang dada menerima kekalahan agar terciptanya kalah terhormat juga mesti dimiliki oleh setiap pendukung dari partai politik, sehingga kesadaran tersebut merata di segala kalangan Masyarakat Indonesia. Jika sudah begitu Pemilu 2019 bisa berjalan dengan damai dan tenang.

Menang bermartabat tercipta dari kejujuran dan keadilan KPU sebagai panitia pemilu, Bawaslu sebagai pengawas dari pelaksanaan pemilu serta seluruh Masyarakat Indonesia sebagai peserta demokrasi. Masyarakat juga harus memilik keterlibatan secara aktif dalam proses berjalannya tahapan pemilu, khususnya dalam hal pengawasan atau pemantauan proses pemilu.

Peran dan partisipasi masyarakat sipil dalam mengawasi atau memantau jalannya proses kontestasi demokrasi merupakan hal yang sangat penting. Partisipasi bertujuan mendorong aktif kegiatan demokrasi untuk semua proses kepemiluan, kepentingan fokus partisipasi menjadi indikator peningkatan kualitas demokrasi dan kehidupan politik bangsa.

Sebelum acara deklarasi ‘Kalah Terhormat, Menang Bermartabat’ di tutup dengan do’a, disuguhkan serangkaian tari yang diakhiri dengan membuka payung peserta yang hadir secara serentak. Simbol payung tersebut sebagai pengikat untuk para kontestan pemilu berkampanye dibawah regulasi yang ada. Baik, dari peraturan undang-undang, peraturan KPU dan Bawaslu.

Deklarasi serupa juga berlangsung di seluruh Bawaslu kota/Kabupaten secara serentak dengan kegiatan senam awas. Sesuai instruksi Bawaslu Jawa Timur.

Akhir pekan selalu menjadi waktu yang tepat untuk sekedar mencari hiburan atau travelling.  Seperti akhir pekan saya kali ini yang dihab...

Menikmati Kesegaran Air Terjun Pengantin - Banyuwangi


Akhir pekan selalu menjadi waktu yang tepat untuk sekedar mencari hiburan atau travelling.  Seperti akhir pekan saya kali ini yang dihabiskan dengan menikmati kesegaran Air Terjun Pengantin yang terletak di Dusun Wonorejo Desa Kalibaruwetan Kec. Kalibaru Kab. Banyuwangi.

Petualangan kali ini saya mulai dari Desa Sidomulyo Kec. Silo Kab. Jember, (tempat saya mengabdi selama satu tahun) dengan menggunakan mobil pribadi, jam 07.34 Wib saya bersama 6 teman sudah berangkat menuju lokasi Air Terjun Pengantin yang katanya merupakan tempat hitz di Banyuwangi.

Sebelum memasuki Kota Banyuwangi, terlebih dahulu saya harus melewati jalanan Gunung Gumitir yang berkelok-kelok hingga sekitar 7 kilometer. Jalan yang menghubungkan Kabupaten Jember-Banyuwangi ini sangat menguji adrenalin lantaran kemiringan jalan dan kelokannya yang lumayan tajam. Namun, suasananya sudah terasa sejuk sejak awal memasuki Gunung Gumitir, karena di sepanjang jalannya dibentengi jutaan pepohonan besar yang hijau.

Setelah menghatamkan kelokan Gumitir, akhirnya saya tiba di Kalibaru. Selain terkenal dengan perkebunan kopinya, ternyata ada air terjun yang lumayan masyhur, yaitu Air Terjun Tirto Kemanten. Dinamakan Tirto Kemanten yang berarti air pengantin, karena air terjun ini merupakan air terjun kembar atau terdapat dua aliran air yang letaknya bersebelahan mirip pengantin yang bersanding.

Setelah saya sampai dirumah teman, perjalanan berlanjut dengan menggunakan 3 motor menyusuri jalan perkebunan kopi dan coklat yang merupakan peninggalan masa kolonial Belanda, perlu diketahui bahwa jalur yang ditempuh adalah jalan perkebunan yang terjal dengan struktur jalan dari batu prejeng.

Sesampainya di lokasi saya menjumpai pos jaga yang dikelola oleh penduduk setempat. Disini saya harus melapor terlebih dahulu dan membeli tiket masuk yang sekaligus ongkos parkir. Selanjutnya saya masih harus menyusuri tangga beton yang menurun, dan lumayan sedikit menguras tenaga.

Akhirnya saya sampai juga, rasa lelah dan penasaran terbayar lunas ketika raga saya merasakan kesejukan dan keindahan Air Terjun Tirto Kemanten. Dan saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Suara gemuruh air terjun kembar ini sangat mendominasi suasana, walau sesekali akan terdengar suara-suara dari beberapa satwa yang tinggal dikawasan ini seperti kera dan burung-burung.

Air terjun ini terdiri dari dua air terjun yang tingginya mencapai 10 meter dan posisinya berdekatan, hanya dipisahkan oleh batu besar. Oleh karena itu air terjun ini dinamakan Tirto Kemanten yang berarti Air Pengantin.

Terasa kurang sempurna jika tidak merasakan kesegaran air yang jatuh dari ketinggian 10 meter ini, akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk turun kesungainya serta menyeburkan badan untuk merasakan kesegaran air dari lereng Gunung Raung. Menurut penduduk setempat. Air terjun ini merupakan tingkat terakhir dari 7 air terjun yang berada di lereng Gunung Raung.

Kesegaran bertambah ketika saya langsung merasakan kucuran air dari kedua aliran air terjun Tirto Kemanten ini, namun harus hati-hati karena banyak bebantuan yang licin, dan teman saya bernasib sial karena kurang hati-hati sehingga dia terpeleset dan terjebur sebelum pakainnya dilucuti.




Berlama-lama di tempat ini saya sangat kerasasan, karena tempatnya memang sangat memanjakan dan masih sangat terjaga keasriannya. Tidak ketinggalan saya menyempatkan untuk berselfie ria di sport foto yang tentunya keren banget. Jam 12.08 WIB menjadi perpisahan saya dengan Air Terjun Pengantin ini, karena perut sudah keroncongan dan habis Sholat Ashar saya harus kembali lagi ke Jember.

Lelah dan letih saya terbalas lunas setelah merasakan kesejukan dan keindahan air terjun ini. Hampir saja saya merasakan penyesalan lantaran pada awalnya saya tidak mau ikut teman-teman ke Air Terjun ini. Dan setelah berpikir panjang, akhirnya saya memutuskan untuk ikut, dan saya rasa itu adalah keputusan yang sangat tepat, karena sampai detik ini tempat itu masih saja ingin saya kunjungi.

Nah, bagaimana dengan kalian Smart People? Tertarik untuk berkunjung ke Air Terjun Tirto Kemanten/Air Terjun Pengantin?

Mas Jhoo - Seorang Pria kelahiran 11 Desember 1997, besar dan tumbuh dibawah kasih sayang kedua orangtuanya di Desa Grujugan Kec. Lara...

ABOUT US



Mas Jhoo - Seorang Pria kelahiran 11 Desember 1997, besar dan tumbuh dibawah kasih sayang kedua orangtuanya di Desa Grujugan Kec. Larangan Kab. Pamekasan.

Hobi Menulisnya berawal ketika ia Hijrah dan melanjutkan pencarian jati dirinya ke Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar dibawah asuhan RKH. Mohammad Syamsul Arifin. Karena sejak statusnya berubah menjadi Santri, ia kemudian dipertemukan dengan organisai penulis muslim terbesar di dunia yang pertama kali lahir di Pulau Madura, yakni Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Banyuanyar, dari organisasi tersebutlah ia mulai belajar menata huruf demi huruf hingga mampu melahirkan sebuah karya.

Perjalanan Organisasinya di dunia Literasi berlanjut ke Komunitas Blogger Plat-Madura sejak tanggal 05 Agustus 2018, hal itu tidak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi yang memaksanya untuk terus berinovasi dan beradapsi dengan keadaan zaman.

Selain aktif di dunia literasi, ia sekarang juga mengabdikan dirinya di dunia pendidikan dengan menjadi Operator di sekolah terdahulunya, SMA Tahfidz Darul Ulum Banyuanyar. sejak tahun 2017 ia juga tercatat sebagai Mahasiswa Program Studi Bimbingan & Konseling Pendidikan Islam di Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan.

Masjid Al-Aqsa belum bebas, Muslim Suriah masih di kejar-kejar tentara Bashar dan pendukung Syiah. Pun demikian dengan muslim Rohing...

Tahun Baru Hijriyah : Momentum Persatuan Untuk Kebangkitan Islam


Masjid Al-Aqsa belum bebas, Muslim Suriah masih di kejar-kejar tentara Bashar dan pendukung Syiah. Pun demikian dengan muslim Rohingya yang masih hangat-hangatnya dibunuh, diusir dan di genosida oleh militer Myanmar.

Bahkan di Indonesia pun, Umat Islam juga mendapatkan serangan penghancuran dan pemecah persatuan, meskipun tidak setragis Umat Muslim Palestina, Afganistan dan Myanmar. Seperti halnya penistaan agama, adu domba Ormas (Organisasi Masyarakat) besar Islam, dan juga agenda bangkitnya komunis yang tak dihiraukan oleh Pemerintah.

Semua bertanya-tanya, kapan ini akan berakhir?
Jawabannya adalah Muharram, Tahun Baru Islam adalah momen yang tepat untuk memulai kebangkitan dan persatuan Umat Islam. Tahun Baru Islam atau 01 Muharrom 1439 Hijriyah jatuh pada hari Kamis tanggal 21 September 2017. Sangat tepat, karena sejarah awal tahun baru Islam menandakan peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yaitu memperingati peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke kota Madinah pada tahun 622 Masehi.

Hijrah beliau bukan hanya sekedar pindah biasa, melainkan hijrah beliau merupakan perintah Allah SWT dan juga merupakan bagian dari strategi perjuangan dalam dakwah Islam. Dan buah dari hijrah itu adalah terbentuknya Khilafah Islamiyah, termasuk Khulafaur Rasyidin, hingga Khilafah Utsmaniyah sebagai khilafah terakhir dalam sejarah Islam.

Selain itu, bulan muharram –bulan pertama Hijriyah- merupakan salah satu diantara empat bulan yang dinamakan bulan Haram (Suci), seperti yang sudah disinggung dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat: 36. Kenapa dinamakan bulan haram? Karena pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan dan pada bulan itu juga larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan dari pada bulan-bulan yang lain dengan tujuan untuk memuliakan bulan tersebut.

Oleh karena itu, mengaca pada sejarah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW yang kemudian ditetapkan sebagai awal mula kalender Hijriyah, dan bulan Muharram sebagai bulan yang pertama. Sudah semestinya Tahun Baru Hijriyah kali ini dijadikan sebagai momentum untuk kebangkitan Umat Islam.
Menghapus segala bentuk kekejaman dan kedzaliman kepada umat islam yang minoritas di berbagai negara. Dengan bersatu untuk membantu Umat Islam yang lemah dan memberikan bantuan semampunya, seperti relawan jihad, uang, obat-obatan ataupun sekedar Doa. Sudah termasuk indikasi bertahap untuk kebangkitan Umat Islam. Meskipun pada kenyataannya rasa solidaritas sesama umat Islam masih lemah, terbukti dengan minimnya bantuan untuk saudara-saudara yang menderita di negara yang minoritas Islam.

Sekarang saatnya umat Islam bersatu untuk bangkit, dan perlu diingat bahwa Islam satu dengan umat Islam yang lainnya bagaikan satu tubuh, jika ada yang terluka, sudah semestinya anggota tubuh yang lainnya merasakan sakit yang sama. Bukan tidak mungkin segala bentuk kekejaman dan ke dzholiman terhadap umat Islam di bumi hanguskan, jika umat Islam seluruh dunia bersatu dan bangkit.

Jangan sampai tahun baru Islam kali ini disambut dengan perayaan yang berlebihan tanpa ada manfaat di dalamnya. Utamakan dengan kegiatan islami yang lebih bermanfaat. seperti pengajian, Tablig Akbar, ajang perlombaan, dan perbanyak ibadah untuk menyambut datangnya tahun yang baru. Sangat miris sekali jika Umat Islam sendiri lebih bangga menyambut datangnya tahun baru Masehi dari pada tahun baru Hijriyah.

Selamat Tahun Baru 1439 Hijriyah untuk semua umat Islam di seluruh dunia, saatnya kita bersatu, saatnya kita bangkit dan saatnya kita untuk menegakkan dan mengangkat tinggi-tinggi kalimat “La ila ha Illallah”.

Wallahu A’lam.
Pernah dimuat di karyakapas.com /20 September 2017

“Kapan ya, Nak, ayahmu ini bisa naik haji?” tanya lirih sesosok lelaki tua 62 tahun itu pada anaknya. Nadanya berat. “Insya Allah, ...

Bang Samudin Juga Ingin Naik Haji



“Kapan ya, Nak, ayahmu ini bisa naik haji?” tanya lirih sesosok lelaki tua 62 tahun itu pada anaknya. Nadanya berat.
“Insya Allah, jika Allah berkehendak, ayah pasti bisa ke sana,” jawab Rome, berusaha menguatkan hati ayahnya, meski dalam hatinya ia sendiri merasa hal itu jauh dari kata mungkin.
Bang Samudin, begitulah panggilan akrab lelaki tua itu. Menjajakan gorengan adalah  rutinitasnya setiap hari. Berkeliling desa, hinggap dari satu rumah ke rumah yang lain. Bahkan tak jarang, ia mengunjungi desa-desa sebelah. Dalam setiap kesempatan, Bang Samudin sering menyebut kata “haji” dan “Mekkah”. Dan itu menjadi pertanda bahwa lelaki tua itu teramat ingin naik haji.
“Sudah larut malam, Yah! Sebaiknya Ayah tidur saja…. Besok, kan Ayah masih harus keliling jualan gorengan,” ucap Rome, mengalihkan pembicaraan.
“Ya...,” jawab Bang Samudin, masih dengan suara berat. Ia pun beranjak menuju kamar sempit dan pengap yang hanya diisi satu ranjang lusuh dengan alas sarung bekas di atasnya. Di kamar itulah Bang Samudin tidur seorang diri selama bertahun-tahun. Tepatnya sejak istri yang dicintainya dipanggil Tuhan. Kadang ia harus bertarung dengan bising hujan untuk sekedar tidur nyenyak bila musim penghujan tiba. Namun, terlepas dari itu semua, Bang Samudin tetap bersyukur, karena masih bisa tidur nyenyak dan masih bisa berteduh dari sengatan matahari tatkala musim kemarau tiba.
Di luar, malam kian larut dan sepi. Hanya satu-dua dengkur jangkrik, sahut menyahut di tengah dingin. Di sebuah rumah yang lebih tepat disebut warung itu, tampak dua orang tengah terbuai oleh bunga-bunga tidur mereka masing-masing. Ya, mereka adalah Rome dan Bang Samudin, ayahnya.
Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika la syarika laKa labbaik....
Kalimat itu terdengar sangat jelas di telinga Rome. Membuatnya sontak terbangun dari tidur nyenyaknya. Pelan, ia beranjak. Lalu melangkah menuju ruangan kecil pengap tempat suara itu berasal. Didapatinya, sang ayah tengah bersenandung dengan kedua mata terpejam. Ya, ayahnya lagi-lagi mengingau. Entah, ini sudah yang ke berapa kalinya. Melihat tingkah ayahnya itu, Rome lantas mendekati tubuh kurus di atas ranjang itu.
“Yah…. Ayah....” lirih Rome. Ia pun menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya, pelan.
Astagfirullahal ‘azhim….” Seketika, Bang Samudin pun terbangun. Keringat melumuri sekujur tubuh ringkihnya.
“Ayah mimpi lagi, Nak!” ucap lirih Bang Samudin setelah setengah kesadarannya mulai pulih.
“Sudahlah, Yah…. Jangan terlalu dipikirin. Masalah naik haji, Rome yakin, jika Allah berkehendak, Ayah pasti bisa naik haji….” Rome menggantung kalimatnya, sejenak. Lalu diam. Ada rona sayu di kedua bola mata bujang itu.
“Sudahlah, mending sekarang Ayah tidur lagi!” lanjutnya kemudian.
“Ayah mau shalat tahajjud dulu, Nak.” Tanpa menunggu tanggapan anaknya, Bang Samudin langsung beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi kecil di sudut kanan rumah.
Dalam sujud tiap malamnya, Bang Samudin selalu memohon kepada yang Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar harapannya naik haji menjadi kenyataan. Ia paham betul, jika hanya berusaha saja tanpa diiringi dengan do’a tidak akan ada gunanya. Begitu pun sebaliknya. Maka ia pun rutin menyisihkan sebagian uang hasil menjajakan gorengannya untuk ditabung.
Terlampau besarnya keinginan Bang Samudin untuk naik haji, membuatnya hampir setiap malam memimpikannya. Bukan hanya satu-dua kali kejadian itu menimpanya. Bahkan berulang-ulang kali. Hatinya menjadi miris setiap kali mendengar suara keras ayahnya mengigau. Ingin sekali ia memberangkatkan ayahnya naik haji ke Mekkah, tapi pekerjaanya  sebagai pengamen jalanan jauh dari cukup untuk sekedar biaya makan sehari-hari. Apalagi untuk ongkos naik haji yang hampir setiap tahunnya melonjak tajam. Namun demikian, Rome masih sangat berharap, suatu hari nanti Tuhan memberikan jalan terbaik untuk dirinya, juga ayahnya.
***
Pagi yang cerah. Ribuan bulir embun jatuh mematuk tanah. Juga dedaunan dan rerumputan. Membuat rasa malas bersarang dan mencipta rasa enggan pada sebagian orang untuk sekedar beranjak dari ranjang mereka. Tapi tidak dengan Bang Samudin. Sejak Shubuh tadi, ia telah menyiapkan dagangannya. Berbeda dengan ayahnya, Rome kembali tidur setiap selesai shalat Shubuh, dan baru akan bangun pukul tujuh menjelang. Biasanya, ia akan berangkat ngamen setelah pukul tujuh. Rome lakukan itu semata-mata hanya karena ingin meringankan beban ayahnya. Ia pun tidak sekolah. Ia tidak ingin merepotkan ayahnya dengan segala biaya dan keperluan sekolahnya.
“Gorengan …. Gorengan.... Masih hangat....” Teriak Bang Samudin memulai rutinitasnya mengelilingi desa, menjajakan gorengan. Gorengan Bang Samudin terkenal masyhur dan menjadi favorit warga desa. Selain memang memiliki cita rasa yang tinggi, gorengan Bang Samudin dikenal murah-meriah dibanding dengan gorengan buatan orang lain. Hingga tak ayal jika banyak warga yang suka.
“Bang Samudin, beli gorenganya, Bang!” teriak salah seorang ibu rumah tangga, seorang pelanggan gorengan Bang Samudin.
“Mau beli berapa, Bu Erni?” Seutas senyum tersungging lewat bibir Bang Samudin yang agak menghitam.
“Lima ribu, Bang.” Bu Erni menyodorkan  uang kertas lima ribuan, yang langsung diraih oleh Bang Samudin.
“Oh ya, katanya Abang sering mimpi ke naik haji?” Bu Erni membuka percakapan.
“Tidak sering, Bu Erni…. Cuma kadang-kadang,” respon Bang Samudin sembari cekatan memasukkan beberapa gorengan ke dalam kantong plastik.
“Memang Bang Samudin pengen banget naik haji ya?” tanyanya Bu Erni lagi.
“Siapa sih yang nggak pengen ke sana, Bu?” tanggap Bang Samudin, mengulas senyum.
“Memang punya uang berapa, Bang…?” tanya Bu Erni sedikit menjurus, membuat Bang Samudin diam seribu Bahasa.
“Kalau punya mimpi, jangan tinggi-tinggi Bang! Ntar kalau jatuh, kasihan abangnya...!” lanjut Bu Erni. Bang Samudin hanya diam. Tentu saja ia tersinggung.
Pagi itu, Bang Samudin seakan disadarkan oleh perkataan Bu Erni. Namun hal itu belum bisa meruntuhkan semangatnya untuk naik haji. Walaupun sangat tidak memungkinkan semua itu terjadi, Bang Samudin tetap yakin Allah akan membantunya mewujudkan cita-cita mulianya itu. Ya, bukankah Allah maha kuasa atas segalanya.
***
Sementara di kejauhan sana, di sebuah  trotoar, Rome melangkah dengan gitar tua miliknya. Seutas senyum tak pernah beranjak dari bibir keringnya. Ia terlampau bahagia dengan hasil yang ia dapatkan hari itu. Rome melangkah, hendak menyeberang jalan. Namun tanpa ia sadari, sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata sudah berada di sampingnya, dan...  brukkkk!  Tubuh Rome seketika terhempas. Terpisah dari gitar tua yang ia sandang. Beberapa lembar uang kertasnya berhamburan, mengenai kubangan air di dekatnya. Meski tak tampak darah mengucur, hentakan keras mobil itu membuat Rome tidak sadarkan diri. Ia pingsan, di kelilingi banyak orang. Bersamaan dengan itu, pengemudi mobil yang menabraknya dengan muka pasi turun. Dan dengan bantuan warga sekitar, laki-laki itu membopong tubuh Rome ke dalam mobilnya. Ia akan membawa Rome ke rumah sakit.
Tiga jam berlalu, Rome kemudian tersadar dari pingsanya. Tidak ada luka yang cukup serius dalam insiden itu. Sehingga Rome tidak perlu menjalani rawat inap dan diperbolehkan pulang sekarang oleh dokter.
“Anda tidak apa-apa?” tanya pengemudi mobil yang menabraknya itu. Rome sudah bisa jalan kaki ke luar ruangan rumah sakit itu.
“Nggak apa-apa kok, Pak. Hanya sedikit pusing,” respon Rome, sembari memegang kepalanya.
“Saya minta maaf atas kelalaian saya sehingga membuat Anda seperti ini. Gitar Anda yang rusak dan biaya rumah sakit biar saya yang tanggung semua,” ucap lelaki itu, sopan penuh tanggung jawab.
“Makasih banyak, Pak!”
“Oh ya, saya ada perlu sama Anda. Bisa ikut saya sekarang?”
“Dengan senang hati, Pak.” Rome berjalan pelan mengikuti orang yang tadi mencelakainya. Meski sama sekali tak mengenal lelaki itu, namun Rome yakin kalau ia adalah orang baik dan tidak mungkin berbuat jahat padanya. Mereka berdua pun berhenti di sebuah tempat makan, di sudut rumah sakit. Lelaki itu lalu menyuruh Rome duduk di kursi kosong di sebelahnya. Dengan rasa bingung , ia menuruti perintah lelaki itu, sembari mengulas senyum seramah mungkin.
“Ada perlu apa ya, Bapak membawa saya ke sini?” tanya Rome membuka suasana.
“Begini ceritanya, saya punya seorang putri yang sangat saya cintai dan putri saya itu ada kaitanya dengan Anda. Dan mungkin hanya Anda yang bisa menyelamatkan nyawa putri saya. Putri saya itu sekarang sudah genap berumur 10 tahun. Sejak lahir, ia mengidam penyakit jantung yang mematikan. Setiap kali penyakitnya kambuh, ia akan pingsan dan harus bernafas dengan bantuan tabung oksigen. Saya sangat tidak tega setiap kali melihatnya menanggung semua itu,” cerita lelaki itu, panjang lebar.
 “Dan baru-baru ini, dokter bilang jika jantung anak saya tidak segera dioperasi dan tidak mendapatkan donor jantung, maka nyawanya tidak akan lama lagi. Dokter bilang, tingkat penyakit putri saya sudah stadium akhir,” sambung lelaki itu. Sejenak, ia berhenti sembari mengusap air matanya yang mengalir.
“Saya bersyukur dipertemukan Tuhan dengan Anda. Karena menurut dokter yang memeriksa Anda tadi, jantung Anda cocok dengan jantung putri saya. Kebetulan dokter itu adalah dokter yang menangani putri saya selama ini. Nak…! Bersediakah Anda mendonorkan jantung Anda buat putri saya? Saya berjanji akan menuruti apapun yang Anda minta jika Anda bersedia.” Lelaki itu kemudian terdiam, tak melanjutkan bicaranya.
Bagaikan ada sesuatu yang tiba-tiba menerobos masuk, dada Rome berdegup kencang. ‘Mungkin hanya Anda yang bisa menyelamatkan nyawa putri saya’. Ucapan lelaki itu kembali menggiang di telinganya. Rome terdiam. Sejenak, ia menimbang-nimbang keputusan terbaik yang akan diberikannya pada lelaki itu. Sejujurnya, ia juga sangat terkejut dan gugup, sebab ia terlampau paham bahwa semua itu taruhanya adalah nyawa. Di sisi lain, ia malah teringat pada Bang Samudin, ayahnya. Lelaki tua itu teramat ingin menunaikan impiannya pergi naik haji. Maka, kalau saja ia menerima tawaran gila itu dengan mendonorkan jantungnya untuk putri lelaki itu, mungkin ia bisa meminta imbalan ongkos naik haji untuk ayahnya, sesuai ucapan yang dikatakan oleh lelaki itu padanya. Namun jika ia lakukan itu, berarti ia akan kehilangan nyawanya sendiri. Rome bingung.
“Ini keputusan yang sangat berat bagi saya, Pak. Beri saya waktu tiga hari untuk berfikir. Insya Allah akan saya kabarkan jawabannya tiga hari lagi,” ucap Rome yang langsung disambut anggukan lelaki itu.
Dua keputusan yang sangat besar dampaknya. Ia harus memilih salah satu dari dua pilihan itu. Di satu sisi, ia ingin sekali menolong putri lelaki itu sekaligus ingin memberangkatkan ayahnya naik haji. Namun di sisi lain, ia diliputi rasa takut yang teramat sangat. Sebab ia harus rela mengorbankan nyawa sebagai taruhannya. Fikirannya kembali berkecamuk. ‘Mungkin hanya Anda yang bisa menyelamatkan  nyawa putri saya’. Ucapan lelaki itu terus menggiang, mengiringi bayangan ayahnya saat mengigau. 
Allahku! Kenapa aku dihadapkan pada dua pilihan yang sangat berat ini...? Tolonglah hamba yang lemah ini, Gusti...!! desah Rome.
***
Tiga hari yang dijanjikan telah tiba. Sampailah Rome pada titik akhir keputusan berat itu. Ia sudah tiga kali melakukan shalat istikharah. Dan keputusan itu kini sudah ia dapatkan. Meski setidaknya dengan hati berat menerima keputusan itu, ia yakin keputusan itu adalah yang terbaik untuk semuanya.
“Saya mau idzin untuk merantau bersama teman saya, Yah...!” ucap Rome malam itu, di sela-sela membantu ayahnya menggoreng gorengan.
“Merantau...? Mau merantau ke mana, Nak...?” Bang Samudin sedikit terkejut mendengar ucapan Rome.
“Ke kota, Yah! Saya mau mandiri, biar bisa bantu Ayah menabung ongkos naik haji.” Rome menatap sayu langit-langit dapur.
“Tak perlu kau memikirkan itu, anakku! Biarlah Ayah yang berusaha sendiri.”
“Tidak, Yah! Selagi saya mampu, saya akan berusaha mewujudkan cita-cita mulia Ayah itu,” ucap Rome, tegas.
“Baiklah kalau itu memang keinginan kamu. Ayah tidak bisa melarangmu. Berangkatlah! Doa Ayah akan selalu menyertaimu.” Bang Samudin menatap lekat mata putra semata wayangnya itu.
***
Mobil avanza itu berhenti tepat di depan rumah Bang Samudin. Banyak tetangga dekatnya yang terkejut melihat kedatangan mobil mewah itu. Ada yang mengira, pengemudi avanza itu adalah debt collector yang akan menagih hutang kepada Bang Samudin. Ada juga yang beranggapan kalau pengemudi mobil itu adalah kerabat jauh Bang Samudin. Tak lama kemudian, seorang bapak bersama anak perempuanya turun dari mobil mewah itu. Lalu mereka melangkah memasuki rumah kumuh Bang Samudin.
“Perkenalkan, nama saya Pak Retno. Dan ini putri saya, namanya Faila,” ucap lelaki  pengemudi avanza itu sembari mengenalkan anak perempuannya pada Bang Samudin. Laki-laki tua itu tampak kebingungan.
“Apa benar Anda Pak Samudin?” tanyanya, kemudian.
“Ya benar. Ada perlu apa ya…?” Bang Samudin heran. Tak biasanya ada orang kaya yang mencarinya. Ia pun bingung. Perasaannya, ia tak pernah mengenal lelaki yang berada di depannya itu.
“Begini Bang, eh Pak. Putri saya ini sudah lama mengalami penyakit mematikan. Dan saya berjanji, jika suatu hari nanti putri saya ini sembuh dari penyakit itu, saya akan memberangkatkan seseorang naik haji. Dan kebetulan sekali penyakit putri saya sekarang sudah sembuh. Saya akan menepati janji saya untuk memberangkatkan seseorang naik haji. Dan orang itu adalah Bang eh Pak Samudin. Karena dengar-dengar dari tetangga sini, kalau Bang Samudin kepengen banget naik haji,” tutur bapak pengemudi mobil itu sembari tersenyum.
“Bapak tidak bercanda, bukan? Atau saya sedang bermimpi?” Bang Samudin tidak percaya dan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Ia tak menyangka, kalau impian mulianya sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
“Tidak. Pak Samudin tidak sedang bermimpi. Saya beneran ingin memberangkatkan Pak Samudin naik haji dan saya yang akan menanggung semua biayanya.”
“Makasih, Pak…! Makasih banyak, Pak! Allahu akbar...! Labbaik Allahumma labbaik... Terima kasih ya Allah!!!!!” Seketika, mata Bang Samudin basah. Ia menangis haru atas nikmat yang telah diberikan padanya.
Sepanjang hari itu, kalimat syukur dan kalimat talbiyah pun tiada henti bergema di dalam rumah kumuh itu. Begitu juga di hari-hari berikutnya.
“Rome? Ya, Rome… Anakku harus segera tahu kabar baik ini,” gumam Bang Samudin seketika mengingat Rome. Ia harus mengabarkan kabar gembira itu pada Rome. Pasti, anaknya itu akan sangat senang mendengarnya. Tapi bagaimana caranya? Bukankah dirinya tidak punya telepon? Apalagi ia belum tahu di mana Rome berada. Dan itu semua sedikit mengganggu kebahagiannya. Tapi Bang Samudin berusaha untuk tetap tenang. Karena ia tahu, kalau dirinya bahagia, anaknya pasti akan turut bahagia.
Bang Samudin pun semakin tenang dan bahagia, karena semua hal yang dibutuhkan dalam rangka keberangkatannya ke tanah suci, semuanya dipersiapkan oleh orang kaya yang sangat baik itu. Bahkan dirinya juga diberi tahu bahwa keberangkatannya tidak akan lama lagi. Ia diberangkatkan dengan fasilitas ONH Plus.
***
Kaki Bang Samudin bergetar hebat ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah suci. Ia masih saja tidak percaya kalau impiannya itu akan terwujud. Bahkan semuanya dirasa terlalu mudah baginya.
Serangkaian ibadah haji Bang Samudin lewati dengan penuh semangat dan rasa syukur. Hingga tibalah pada prosesi thawaf yang sangat ia tunggu dan sering ia impikan. Dengan membaca basmalah, Bang Samudin kemudian memulai thawaf bersama jamaah yang lain. Kalimat talbiyah dengan khusyuk ia kumandangkan di tengah suasana ramai itu.
Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika la syarika laKa, labbaik....
Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika la syarika laKa, labbaik....
Tujuh putaran Bang Samudin mengelilingi Ka’bah. Setelah itu, ia kemudian melakukan sujud syukur cukup lama di hadapan Ka’bah. Jamaah lain yang melihatnya dibuat keheranan.
“Pak… Bapak...!” Mengira terjadi sesuatu dengan Bang Samudin, salah seorang jamaah haji dari rombonganya itu mencoba mendekati Bang Samudin sembari menyadarkannya.
Inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un....
Sungguh tidak diduga, Bang Samudin telah menghebuskan nafas terakhirnya di tanah suci setelah melakukan thawaf. Tiada yang menyangka, seorang Bang Samudin yang hanya orang desa miskin penjaja gorengan itu dipanggil Tuhan di tanah yang suci, saat melakukan haji yang sudah menjadi impiannya. Arwah Bang Samudin menyusul arwah Rome yang lebih dulu menghadap Sang Khalik. Ketika itu, Rome bersedia mendonorkan jantungnya buat putri bapak yang pernah menabraknya. Sedangkan sebagai imbalan, ia minta agar ayahnya diberangkatkan naik haji.
Dan Bang Samudin akhirnya bisa naik haji. Namun ia tidak tahu kalau Rome-lah yang telah mengorbankan nyawanya demi mewujudkan impian mulianya itu.
Dua orang yang meniti di jalan Allah telah menghadap Sang Khalik. Mereka kembali dengan hati yang suci, dan akan bertemu kembali di taman indah yang abadi.

Cerpen ini saya persembahkan untuk Bunda tersayang….
Saya akan berusaha menjadi anak yang sholeh dan berbakti padamu, Bunda!
Saya juga akan berusaha untuk memberangkatkan Bunda ke Tanah Suci, bersama Ayah…

* Sirajul Munir
Penggiat FLP R. Banyuanyar
Facebook: Dandelion Senja