“Kapan ya, Nak, ayahmu ini bisa naik haji?” tanya lirih sesosok lelaki tua 62 tahun itu pada anaknya. Nadanya berat. “Insya Allah, ...

Bang Samudin Juga Ingin Naik Haji

Agustus 08, 2018 Mas Junior 0 Comments



“Kapan ya, Nak, ayahmu ini bisa naik haji?” tanya lirih sesosok lelaki tua 62 tahun itu pada anaknya. Nadanya berat.
“Insya Allah, jika Allah berkehendak, ayah pasti bisa ke sana,” jawab Rome, berusaha menguatkan hati ayahnya, meski dalam hatinya ia sendiri merasa hal itu jauh dari kata mungkin.
Bang Samudin, begitulah panggilan akrab lelaki tua itu. Menjajakan gorengan adalah  rutinitasnya setiap hari. Berkeliling desa, hinggap dari satu rumah ke rumah yang lain. Bahkan tak jarang, ia mengunjungi desa-desa sebelah. Dalam setiap kesempatan, Bang Samudin sering menyebut kata “haji” dan “Mekkah”. Dan itu menjadi pertanda bahwa lelaki tua itu teramat ingin naik haji.
“Sudah larut malam, Yah! Sebaiknya Ayah tidur saja…. Besok, kan Ayah masih harus keliling jualan gorengan,” ucap Rome, mengalihkan pembicaraan.
“Ya...,” jawab Bang Samudin, masih dengan suara berat. Ia pun beranjak menuju kamar sempit dan pengap yang hanya diisi satu ranjang lusuh dengan alas sarung bekas di atasnya. Di kamar itulah Bang Samudin tidur seorang diri selama bertahun-tahun. Tepatnya sejak istri yang dicintainya dipanggil Tuhan. Kadang ia harus bertarung dengan bising hujan untuk sekedar tidur nyenyak bila musim penghujan tiba. Namun, terlepas dari itu semua, Bang Samudin tetap bersyukur, karena masih bisa tidur nyenyak dan masih bisa berteduh dari sengatan matahari tatkala musim kemarau tiba.
Di luar, malam kian larut dan sepi. Hanya satu-dua dengkur jangkrik, sahut menyahut di tengah dingin. Di sebuah rumah yang lebih tepat disebut warung itu, tampak dua orang tengah terbuai oleh bunga-bunga tidur mereka masing-masing. Ya, mereka adalah Rome dan Bang Samudin, ayahnya.
Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika la syarika laKa labbaik....
Kalimat itu terdengar sangat jelas di telinga Rome. Membuatnya sontak terbangun dari tidur nyenyaknya. Pelan, ia beranjak. Lalu melangkah menuju ruangan kecil pengap tempat suara itu berasal. Didapatinya, sang ayah tengah bersenandung dengan kedua mata terpejam. Ya, ayahnya lagi-lagi mengingau. Entah, ini sudah yang ke berapa kalinya. Melihat tingkah ayahnya itu, Rome lantas mendekati tubuh kurus di atas ranjang itu.
“Yah…. Ayah....” lirih Rome. Ia pun menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya, pelan.
Astagfirullahal ‘azhim….” Seketika, Bang Samudin pun terbangun. Keringat melumuri sekujur tubuh ringkihnya.
“Ayah mimpi lagi, Nak!” ucap lirih Bang Samudin setelah setengah kesadarannya mulai pulih.
“Sudahlah, Yah…. Jangan terlalu dipikirin. Masalah naik haji, Rome yakin, jika Allah berkehendak, Ayah pasti bisa naik haji….” Rome menggantung kalimatnya, sejenak. Lalu diam. Ada rona sayu di kedua bola mata bujang itu.
“Sudahlah, mending sekarang Ayah tidur lagi!” lanjutnya kemudian.
“Ayah mau shalat tahajjud dulu, Nak.” Tanpa menunggu tanggapan anaknya, Bang Samudin langsung beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi kecil di sudut kanan rumah.
Dalam sujud tiap malamnya, Bang Samudin selalu memohon kepada yang Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar harapannya naik haji menjadi kenyataan. Ia paham betul, jika hanya berusaha saja tanpa diiringi dengan do’a tidak akan ada gunanya. Begitu pun sebaliknya. Maka ia pun rutin menyisihkan sebagian uang hasil menjajakan gorengannya untuk ditabung.
Terlampau besarnya keinginan Bang Samudin untuk naik haji, membuatnya hampir setiap malam memimpikannya. Bukan hanya satu-dua kali kejadian itu menimpanya. Bahkan berulang-ulang kali. Hatinya menjadi miris setiap kali mendengar suara keras ayahnya mengigau. Ingin sekali ia memberangkatkan ayahnya naik haji ke Mekkah, tapi pekerjaanya  sebagai pengamen jalanan jauh dari cukup untuk sekedar biaya makan sehari-hari. Apalagi untuk ongkos naik haji yang hampir setiap tahunnya melonjak tajam. Namun demikian, Rome masih sangat berharap, suatu hari nanti Tuhan memberikan jalan terbaik untuk dirinya, juga ayahnya.
***
Pagi yang cerah. Ribuan bulir embun jatuh mematuk tanah. Juga dedaunan dan rerumputan. Membuat rasa malas bersarang dan mencipta rasa enggan pada sebagian orang untuk sekedar beranjak dari ranjang mereka. Tapi tidak dengan Bang Samudin. Sejak Shubuh tadi, ia telah menyiapkan dagangannya. Berbeda dengan ayahnya, Rome kembali tidur setiap selesai shalat Shubuh, dan baru akan bangun pukul tujuh menjelang. Biasanya, ia akan berangkat ngamen setelah pukul tujuh. Rome lakukan itu semata-mata hanya karena ingin meringankan beban ayahnya. Ia pun tidak sekolah. Ia tidak ingin merepotkan ayahnya dengan segala biaya dan keperluan sekolahnya.
“Gorengan …. Gorengan.... Masih hangat....” Teriak Bang Samudin memulai rutinitasnya mengelilingi desa, menjajakan gorengan. Gorengan Bang Samudin terkenal masyhur dan menjadi favorit warga desa. Selain memang memiliki cita rasa yang tinggi, gorengan Bang Samudin dikenal murah-meriah dibanding dengan gorengan buatan orang lain. Hingga tak ayal jika banyak warga yang suka.
“Bang Samudin, beli gorenganya, Bang!” teriak salah seorang ibu rumah tangga, seorang pelanggan gorengan Bang Samudin.
“Mau beli berapa, Bu Erni?” Seutas senyum tersungging lewat bibir Bang Samudin yang agak menghitam.
“Lima ribu, Bang.” Bu Erni menyodorkan  uang kertas lima ribuan, yang langsung diraih oleh Bang Samudin.
“Oh ya, katanya Abang sering mimpi ke naik haji?” Bu Erni membuka percakapan.
“Tidak sering, Bu Erni…. Cuma kadang-kadang,” respon Bang Samudin sembari cekatan memasukkan beberapa gorengan ke dalam kantong plastik.
“Memang Bang Samudin pengen banget naik haji ya?” tanyanya Bu Erni lagi.
“Siapa sih yang nggak pengen ke sana, Bu?” tanggap Bang Samudin, mengulas senyum.
“Memang punya uang berapa, Bang…?” tanya Bu Erni sedikit menjurus, membuat Bang Samudin diam seribu Bahasa.
“Kalau punya mimpi, jangan tinggi-tinggi Bang! Ntar kalau jatuh, kasihan abangnya...!” lanjut Bu Erni. Bang Samudin hanya diam. Tentu saja ia tersinggung.
Pagi itu, Bang Samudin seakan disadarkan oleh perkataan Bu Erni. Namun hal itu belum bisa meruntuhkan semangatnya untuk naik haji. Walaupun sangat tidak memungkinkan semua itu terjadi, Bang Samudin tetap yakin Allah akan membantunya mewujudkan cita-cita mulianya itu. Ya, bukankah Allah maha kuasa atas segalanya.
***
Sementara di kejauhan sana, di sebuah  trotoar, Rome melangkah dengan gitar tua miliknya. Seutas senyum tak pernah beranjak dari bibir keringnya. Ia terlampau bahagia dengan hasil yang ia dapatkan hari itu. Rome melangkah, hendak menyeberang jalan. Namun tanpa ia sadari, sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata sudah berada di sampingnya, dan...  brukkkk!  Tubuh Rome seketika terhempas. Terpisah dari gitar tua yang ia sandang. Beberapa lembar uang kertasnya berhamburan, mengenai kubangan air di dekatnya. Meski tak tampak darah mengucur, hentakan keras mobil itu membuat Rome tidak sadarkan diri. Ia pingsan, di kelilingi banyak orang. Bersamaan dengan itu, pengemudi mobil yang menabraknya dengan muka pasi turun. Dan dengan bantuan warga sekitar, laki-laki itu membopong tubuh Rome ke dalam mobilnya. Ia akan membawa Rome ke rumah sakit.
Tiga jam berlalu, Rome kemudian tersadar dari pingsanya. Tidak ada luka yang cukup serius dalam insiden itu. Sehingga Rome tidak perlu menjalani rawat inap dan diperbolehkan pulang sekarang oleh dokter.
“Anda tidak apa-apa?” tanya pengemudi mobil yang menabraknya itu. Rome sudah bisa jalan kaki ke luar ruangan rumah sakit itu.
“Nggak apa-apa kok, Pak. Hanya sedikit pusing,” respon Rome, sembari memegang kepalanya.
“Saya minta maaf atas kelalaian saya sehingga membuat Anda seperti ini. Gitar Anda yang rusak dan biaya rumah sakit biar saya yang tanggung semua,” ucap lelaki itu, sopan penuh tanggung jawab.
“Makasih banyak, Pak!”
“Oh ya, saya ada perlu sama Anda. Bisa ikut saya sekarang?”
“Dengan senang hati, Pak.” Rome berjalan pelan mengikuti orang yang tadi mencelakainya. Meski sama sekali tak mengenal lelaki itu, namun Rome yakin kalau ia adalah orang baik dan tidak mungkin berbuat jahat padanya. Mereka berdua pun berhenti di sebuah tempat makan, di sudut rumah sakit. Lelaki itu lalu menyuruh Rome duduk di kursi kosong di sebelahnya. Dengan rasa bingung , ia menuruti perintah lelaki itu, sembari mengulas senyum seramah mungkin.
“Ada perlu apa ya, Bapak membawa saya ke sini?” tanya Rome membuka suasana.
“Begini ceritanya, saya punya seorang putri yang sangat saya cintai dan putri saya itu ada kaitanya dengan Anda. Dan mungkin hanya Anda yang bisa menyelamatkan nyawa putri saya. Putri saya itu sekarang sudah genap berumur 10 tahun. Sejak lahir, ia mengidam penyakit jantung yang mematikan. Setiap kali penyakitnya kambuh, ia akan pingsan dan harus bernafas dengan bantuan tabung oksigen. Saya sangat tidak tega setiap kali melihatnya menanggung semua itu,” cerita lelaki itu, panjang lebar.
 “Dan baru-baru ini, dokter bilang jika jantung anak saya tidak segera dioperasi dan tidak mendapatkan donor jantung, maka nyawanya tidak akan lama lagi. Dokter bilang, tingkat penyakit putri saya sudah stadium akhir,” sambung lelaki itu. Sejenak, ia berhenti sembari mengusap air matanya yang mengalir.
“Saya bersyukur dipertemukan Tuhan dengan Anda. Karena menurut dokter yang memeriksa Anda tadi, jantung Anda cocok dengan jantung putri saya. Kebetulan dokter itu adalah dokter yang menangani putri saya selama ini. Nak…! Bersediakah Anda mendonorkan jantung Anda buat putri saya? Saya berjanji akan menuruti apapun yang Anda minta jika Anda bersedia.” Lelaki itu kemudian terdiam, tak melanjutkan bicaranya.
Bagaikan ada sesuatu yang tiba-tiba menerobos masuk, dada Rome berdegup kencang. ‘Mungkin hanya Anda yang bisa menyelamatkan nyawa putri saya’. Ucapan lelaki itu kembali menggiang di telinganya. Rome terdiam. Sejenak, ia menimbang-nimbang keputusan terbaik yang akan diberikannya pada lelaki itu. Sejujurnya, ia juga sangat terkejut dan gugup, sebab ia terlampau paham bahwa semua itu taruhanya adalah nyawa. Di sisi lain, ia malah teringat pada Bang Samudin, ayahnya. Lelaki tua itu teramat ingin menunaikan impiannya pergi naik haji. Maka, kalau saja ia menerima tawaran gila itu dengan mendonorkan jantungnya untuk putri lelaki itu, mungkin ia bisa meminta imbalan ongkos naik haji untuk ayahnya, sesuai ucapan yang dikatakan oleh lelaki itu padanya. Namun jika ia lakukan itu, berarti ia akan kehilangan nyawanya sendiri. Rome bingung.
“Ini keputusan yang sangat berat bagi saya, Pak. Beri saya waktu tiga hari untuk berfikir. Insya Allah akan saya kabarkan jawabannya tiga hari lagi,” ucap Rome yang langsung disambut anggukan lelaki itu.
Dua keputusan yang sangat besar dampaknya. Ia harus memilih salah satu dari dua pilihan itu. Di satu sisi, ia ingin sekali menolong putri lelaki itu sekaligus ingin memberangkatkan ayahnya naik haji. Namun di sisi lain, ia diliputi rasa takut yang teramat sangat. Sebab ia harus rela mengorbankan nyawa sebagai taruhannya. Fikirannya kembali berkecamuk. ‘Mungkin hanya Anda yang bisa menyelamatkan  nyawa putri saya’. Ucapan lelaki itu terus menggiang, mengiringi bayangan ayahnya saat mengigau. 
Allahku! Kenapa aku dihadapkan pada dua pilihan yang sangat berat ini...? Tolonglah hamba yang lemah ini, Gusti...!! desah Rome.
***
Tiga hari yang dijanjikan telah tiba. Sampailah Rome pada titik akhir keputusan berat itu. Ia sudah tiga kali melakukan shalat istikharah. Dan keputusan itu kini sudah ia dapatkan. Meski setidaknya dengan hati berat menerima keputusan itu, ia yakin keputusan itu adalah yang terbaik untuk semuanya.
“Saya mau idzin untuk merantau bersama teman saya, Yah...!” ucap Rome malam itu, di sela-sela membantu ayahnya menggoreng gorengan.
“Merantau...? Mau merantau ke mana, Nak...?” Bang Samudin sedikit terkejut mendengar ucapan Rome.
“Ke kota, Yah! Saya mau mandiri, biar bisa bantu Ayah menabung ongkos naik haji.” Rome menatap sayu langit-langit dapur.
“Tak perlu kau memikirkan itu, anakku! Biarlah Ayah yang berusaha sendiri.”
“Tidak, Yah! Selagi saya mampu, saya akan berusaha mewujudkan cita-cita mulia Ayah itu,” ucap Rome, tegas.
“Baiklah kalau itu memang keinginan kamu. Ayah tidak bisa melarangmu. Berangkatlah! Doa Ayah akan selalu menyertaimu.” Bang Samudin menatap lekat mata putra semata wayangnya itu.
***
Mobil avanza itu berhenti tepat di depan rumah Bang Samudin. Banyak tetangga dekatnya yang terkejut melihat kedatangan mobil mewah itu. Ada yang mengira, pengemudi avanza itu adalah debt collector yang akan menagih hutang kepada Bang Samudin. Ada juga yang beranggapan kalau pengemudi mobil itu adalah kerabat jauh Bang Samudin. Tak lama kemudian, seorang bapak bersama anak perempuanya turun dari mobil mewah itu. Lalu mereka melangkah memasuki rumah kumuh Bang Samudin.
“Perkenalkan, nama saya Pak Retno. Dan ini putri saya, namanya Faila,” ucap lelaki  pengemudi avanza itu sembari mengenalkan anak perempuannya pada Bang Samudin. Laki-laki tua itu tampak kebingungan.
“Apa benar Anda Pak Samudin?” tanyanya, kemudian.
“Ya benar. Ada perlu apa ya…?” Bang Samudin heran. Tak biasanya ada orang kaya yang mencarinya. Ia pun bingung. Perasaannya, ia tak pernah mengenal lelaki yang berada di depannya itu.
“Begini Bang, eh Pak. Putri saya ini sudah lama mengalami penyakit mematikan. Dan saya berjanji, jika suatu hari nanti putri saya ini sembuh dari penyakit itu, saya akan memberangkatkan seseorang naik haji. Dan kebetulan sekali penyakit putri saya sekarang sudah sembuh. Saya akan menepati janji saya untuk memberangkatkan seseorang naik haji. Dan orang itu adalah Bang eh Pak Samudin. Karena dengar-dengar dari tetangga sini, kalau Bang Samudin kepengen banget naik haji,” tutur bapak pengemudi mobil itu sembari tersenyum.
“Bapak tidak bercanda, bukan? Atau saya sedang bermimpi?” Bang Samudin tidak percaya dan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Ia tak menyangka, kalau impian mulianya sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
“Tidak. Pak Samudin tidak sedang bermimpi. Saya beneran ingin memberangkatkan Pak Samudin naik haji dan saya yang akan menanggung semua biayanya.”
“Makasih, Pak…! Makasih banyak, Pak! Allahu akbar...! Labbaik Allahumma labbaik... Terima kasih ya Allah!!!!!” Seketika, mata Bang Samudin basah. Ia menangis haru atas nikmat yang telah diberikan padanya.
Sepanjang hari itu, kalimat syukur dan kalimat talbiyah pun tiada henti bergema di dalam rumah kumuh itu. Begitu juga di hari-hari berikutnya.
“Rome? Ya, Rome… Anakku harus segera tahu kabar baik ini,” gumam Bang Samudin seketika mengingat Rome. Ia harus mengabarkan kabar gembira itu pada Rome. Pasti, anaknya itu akan sangat senang mendengarnya. Tapi bagaimana caranya? Bukankah dirinya tidak punya telepon? Apalagi ia belum tahu di mana Rome berada. Dan itu semua sedikit mengganggu kebahagiannya. Tapi Bang Samudin berusaha untuk tetap tenang. Karena ia tahu, kalau dirinya bahagia, anaknya pasti akan turut bahagia.
Bang Samudin pun semakin tenang dan bahagia, karena semua hal yang dibutuhkan dalam rangka keberangkatannya ke tanah suci, semuanya dipersiapkan oleh orang kaya yang sangat baik itu. Bahkan dirinya juga diberi tahu bahwa keberangkatannya tidak akan lama lagi. Ia diberangkatkan dengan fasilitas ONH Plus.
***
Kaki Bang Samudin bergetar hebat ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah suci. Ia masih saja tidak percaya kalau impiannya itu akan terwujud. Bahkan semuanya dirasa terlalu mudah baginya.
Serangkaian ibadah haji Bang Samudin lewati dengan penuh semangat dan rasa syukur. Hingga tibalah pada prosesi thawaf yang sangat ia tunggu dan sering ia impikan. Dengan membaca basmalah, Bang Samudin kemudian memulai thawaf bersama jamaah yang lain. Kalimat talbiyah dengan khusyuk ia kumandangkan di tengah suasana ramai itu.
Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika la syarika laKa, labbaik....
Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaika la syarika laKa, labbaik....
Tujuh putaran Bang Samudin mengelilingi Ka’bah. Setelah itu, ia kemudian melakukan sujud syukur cukup lama di hadapan Ka’bah. Jamaah lain yang melihatnya dibuat keheranan.
“Pak… Bapak...!” Mengira terjadi sesuatu dengan Bang Samudin, salah seorang jamaah haji dari rombonganya itu mencoba mendekati Bang Samudin sembari menyadarkannya.
Inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un....
Sungguh tidak diduga, Bang Samudin telah menghebuskan nafas terakhirnya di tanah suci setelah melakukan thawaf. Tiada yang menyangka, seorang Bang Samudin yang hanya orang desa miskin penjaja gorengan itu dipanggil Tuhan di tanah yang suci, saat melakukan haji yang sudah menjadi impiannya. Arwah Bang Samudin menyusul arwah Rome yang lebih dulu menghadap Sang Khalik. Ketika itu, Rome bersedia mendonorkan jantungnya buat putri bapak yang pernah menabraknya. Sedangkan sebagai imbalan, ia minta agar ayahnya diberangkatkan naik haji.
Dan Bang Samudin akhirnya bisa naik haji. Namun ia tidak tahu kalau Rome-lah yang telah mengorbankan nyawanya demi mewujudkan impian mulianya itu.
Dua orang yang meniti di jalan Allah telah menghadap Sang Khalik. Mereka kembali dengan hati yang suci, dan akan bertemu kembali di taman indah yang abadi.

Cerpen ini saya persembahkan untuk Bunda tersayang….
Saya akan berusaha menjadi anak yang sholeh dan berbakti padamu, Bunda!
Saya juga akan berusaha untuk memberangkatkan Bunda ke Tanah Suci, bersama Ayah…

* Sirajul Munir
Penggiat FLP R. Banyuanyar
Facebook: Dandelion Senja

0 coment�rios: