Status santri mulai melekat pada diriku sejak hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan pimpinan ...

Blogger Santri : Estafet Perjuangan Dakwah di Era Digital

Januari 25, 2019 Mas Junior 30 Comments


Status santri mulai melekat pada diriku sejak hari Rabu tanggal 26 Juni 2013. Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan pimpinan RKH. Mohammad Syamsul Airifin adalah pesantren yang aku pilih untuk memperdalam ilmu agama.

Selama 3 tahun nyantri di penjara suci, saya tidak hanya belajar tentang ilmu agama. Tetapi saya juga aktif mengikuti organisasi kepenulisan yang dirintis oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan Muthmainah, yaitu Forum Lingkar Pena (FLP). Sejak saat itulah saya mulai belajar merangkai kata demi kata hingga menghasilkan sebuah karya.

Dengan kondisi pesantren yang memiliki peraturan dan batasan, sedikit menghambat perkembangan saya dalam menekuni dunia kepenulisan. Belum lagi akses sumber refrensi yang hanya tersedia seadanya di perpustakaan pesantren yang berupa buku-buku dan koran langganan.

Berbeda jauh dengan kondisi kehidupan diluar pesantren yang dengan bebasnya mengakses informasi dengan cepat kapan saja dan dimana saja. Hal itu tidak lepas dari pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan begitu sumber refrensi lebih gampang diperoleh dan up to date.

Selama di pesantren tulisanku hanya berhasil dimuat di Majalah Dinding dan Majalah Pesantren, meski hanya level majalah yang berskala internal pesantren, ada kebahagian tersendiri ketika karyaku bisa di nikmati oleh orang lain. Itulah kemudian yang menjadi alasan terbesar untuk konsisten dalam kepenulisan.

Pernah sekali aku  mencoba keberuntungan dan mengetes level kepenulisanku dengan memberanikan mengirim karya ke media cetak. Namun, perjuangan itu belum membuahkan hasil. Sebagai penulis pemula, hal itu tentu membuatku patah semangat dan tidak pernah percaya diri lagi mengirim karya ke media cetak atau media online.

Selain faktor kekecewaan, sulitnya mengakses internet di pesantren juga menjadi alasan bagiku untuk tidak lagi mengirim karya ke media. Kecuali ke media internal pesantren, aku tetap berusaha konsisten karena itu merupakan dakwah bil qolam yang mampu aku lakukan.

Dakwa bil qolam atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan dakwah dengan pena merupakan jargon dari FLP. Jika biasanya dakwah dilakukan dengan lisan, maka anak-anak FLP yang memiliki bakat dalam menulis mengkoloborasikan tulisan dengan dakwah. Sehingga tulisan tersebut dapat bernilai pahala jika bermanfaat kepada pembaca.

Dakwah dengan tulisan sebenarnya sudah berlangsung 14 abad yang lalu, yaitu Selepas wafatnya Rasulullah di tahun 632 M, tepatnya pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, bersama para sahabat kala itu mulai menaruh perhatian yang serius pada dakwah bil qalam.

Penyampaian pesan-pesan Islam yang bersumber dari kitab suci Al Quran, dirasa tidak efektif lagi jika hanya sekedar mengandalkan lisan. Bahkan sudah sampai tahap sangat mengkhawatirkan karena adanya reduksi hingga bias informasi yang diterima. Seiring dengan semakin luas dan beragamnya mad’u atau objek dakwah yang menerima dakwah Islam masa itu.

Bismillah… Saya Blogger

Setelah lulus dari pesantren pada pertengahan tahun 2016, aku pun mulai berinteraksi lagi dengan dunia luar yang bebas dan lepas. Namun kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasiku waktu menjadi santri. Beranggapan bahwa akan lebih produktif menulis ketika sudah keluar dari pesantren dengan kemudahan mengakses informasi dan komunikasi secara cepat.

Kebebasan justru membuatku jauh dengan dunia literasi, akibat kecanduan dengan smartphone dan sosial media. Biasanya saat di pesantren aku bisa mengkhatamkan 2 buku dalam seminggu, berbanding jauh dengan kondisi saat lulus dari pesantren yang dalam 1 tahun hanya mengkhatamkan 2 buku saja.

Jangan tanyakan gimana dengan kebiasaan menulisku, karena dengan sedikitnya membaca itu membuatku malas dan buntu ketika menulis. Dan benar saja yang dikatan oleh penulis-penulis hebat bahwa membaca adalah bahan bakar untuk menulis, semakin banyak yang dibaca maka semakin banyak pula yang ditulis.


Pada pertengahan 2018 aku dipertemukan dengan Komunitas Blogger Madura (Plat-M), singkat cerita akupun bergabung dengan Plat-M sejak tanggal 5 Agustus 2018, diresmikan oleh Mas Wahyu Alam selaku Founder Plat-M. Sejak saat itulah saya mulai mengenal lebih dalam lagi tentang blog, namun masih kaku dalam desain blognya karena bukan anak TI di kampus.

Mendengarkan beberapa keunggulan dan manfaat menjadi blogger yang disampaikan oleh Mas Wahyu, aku pun tertarik untuk ngeblog. Untuk menguatkan komitmenku menjadi seorang blogger, dengan uang hasil pinjaman akupun membeli domain untuk blokku. Dengan membaca basmalah, lahirlah www.masjhoo.com.

Dakwa Bil Medsos

Setelah memiliki blog pribadi, aku bisa menyebarkan lebih luas lagi tulisanku, dengan begitu semakin banyak pula pembacanya. Aku tidak kecewa lagi jika tulisan saya ditolak oleh media online/offline, karena saya bisa mempostingnya diblog pribadi saya, tentunya dengan konsekuensi pembaca yang tidak seluas di media yang lain. Berhubung blog yang masih seumur jagung.

Sebenarnya aku masih belum inten dalam memposting tulisan yang ada unsur-unsur agamanya, tapi paling tidak saya berusaha menghadirkan konten yang memiliki nilai positif, karena itu termasuk dari bagian dakwah bil qolam dan memerangi maraknya penyebaran hoax.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menghadirkan pradigma baru, yaitu dakwah bil qolam dan dakwah bil medsos. aku merasa itu tidak lepas dari pesatnya kemajuan teknologi yang menawarkan sumber informasi komunikasi yang dapat di akses tanpa mengenal waktu dan tempat.

Internet seperangkat dengan media sosial di dalamnya misalnya, keduanya mampu mendistribusikan pesan dengan luas dan dengan mudah menyebarkan informasi kepada banyak orang. Di era milenial, internet dan juga media sosial telah menjadi sedemikian besar dan berdaya sebagai alat informasi dan komunikasi yang tidak dapat diabaikan.

Hal itulah yang membuat perubahan yang signifikan dalam dunia komunikasi dakwah. Yang dulunya terbatas oleh ruang dan waktu, kini dakwah bisa dilakukan dengan lebih mudah dan efektif. Melalui media sosial dan internet, dakwah bisa tersampaikan dengan baik dibandingkan dengan dakwah mimbar ke mimbar.

"Sampaikanlah dariku, walau hanya satu ayat!", demikian kalimat tegas yang keluar dari lisan mulia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Seuntai kalimat yang sangat terkenal di tengah kalangan umatnya, menunjukkan betapa pentingnya urgensi dakwah Islam. Itulah yang memotivasiku untuk tidak segan dan takut dalam menuliskan dan menyampaikan  ayat-ayat langit kepada setiap makhluk bumi, walaupun itu hanya satu ayat. 

Sejak memiliki blog, akupun mulai terbiasa lagi menulis. Dengan kebiasaan itu membuat tulisan saya lebih baik lagi. Dan akhirnya karyaku berhasil menembus di media regional dan nasional. Awalnya tulisanku yang berupa opini dimuat oleh Koran Jawa Pos Radar Madura dan baru-baru ini artikelku juga dimuat di detikcom.

Semoga kedepannya aku semakin konsiten dan produktif dalam berkarya, terutama karya bernilai positif sehingga mampu melanjutkan estafet perjuangan dakwah di era digital.

30 komentar:

  1. Barakallahu Fiek...
    Semoga selalu istiqomah dalam menyebar luaskan syiar-syiar Islam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Terimkasih Supportnya Best Freind

      Hapus
  2. Gimana cara gabung dg blogger madura ya? Pengen.

    BalasHapus
  3. Semangat terus belajar yaas

    BalasHapus
  4. SAya pernah lho, ke Ponpes Banyuanyar, tapi yang putri, bbrp tahun silam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya do'akan semoga bisa sampai lagi mbak...

      Hapus
  5. Keren banget deh bisa dakwah lewat blog, bisa menjangkau banyak orang yang Insya Allah..

    BalasHapus
  6. keren Mas, barakallahu sukses selalu ya Mas.

    BalasHapus
  7. Semangaaaat.... menulis adalah berjuang

    BalasHapus
  8. Keren nih mas junior. Semangat terus ya menulisnya!

    BalasHapus
  9. Barakallahu .. Baru tahu kalau personil bligger arudam hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiinnn...
      Karena baru juga mbak... hehe

      Hapus
  10. Sejatinya kita adalah pendakwah ya kan Mas Jhoo? Semangat Dakwal Bil Blog 😎 doakan aku juga yak

    BalasHapus
  11. Baarakallah ya Mas Jhoo. Semoga kota semua semakin baik tulisannya. Aamiin.

    BalasHapus
  12. Semangat Mas Jhoo, InsyaAllah kalau ada sesuatu yang kita harapkan dari menulis ini, pasti semangat. . Hehe

    BalasHapus
  13. Semakin banyak santri yang ngeblog semakin baik. Semoga para bloger antri jadi turut mewarnai dunia perblogan di Indonesia, sehingga aroma religius bisa didapatkan pada setiap postingan.

    BalasHapus
  14. Salam dr kejauhan assurur

    BalasHapus